RBN || Jakarta
Perkembangan teknologi yang membuat manusia selalu terhubung kini membawa konsekuensi baru bagi kesehatan mental. Notifikasi WhatsApp dan email yang terus berdatangan tanpa henti menciptakan fenomena always on, di mana batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan semakin kabur.
Hal tersebut disampaikan oleh Psikolog, Baiti Jannati, S.Psi., M.Psi dalam tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 301, Sabtu (4/4/2026).
Kondisi ini perlahan dianggap wajar oleh banyak orang. Dalam dunia psikologi, fenomena tersebut dikenal sebagai normalisasi penyimpangan atau normalization of deviance, yakni situasi tidak ideal yang lama-kelamaan diterima sebagai hal biasa karena dialami bersama.
Dalam perspektif psikologi positif yang dikembangkan Carol Ryff, kesejahteraan psikologis menjadi kunci menghadapi kondisi ini. Individu dituntut mampu menerima realitas, tetap memiliki tujuan hidup, serta memahami dan mengendalikan lingkungannya agar tetap merasa sejahtera.
Di sisi lain, ketidakpastian yang terjadi saat ini juga menjadi pemicu utama tekanan mental. Dalam psikologi, kondisi ini disebut sebagai stressor, yaitu berbagai situasi, stimulus, atau perubahan yang memicu stres, mulai dari ketidakpastian global hingga tuntutan adaptasi teknologi.
Dampaknya, banyak individu mengalami kecemasan hingga overthinking. Oleh karena itu, diperlukan kemampuan adaptasi serta kolaborasi untuk menghadapi perubahan yang terus terjadi.
“Mau tidak mau kita harus belajar teknologi dan sistem baru agar bisa bersaing dan meningkatkan skill,” ujar Baiti Jannati.
Para ahli menilai bahwa di tengah era penuh ketidakpastian, kesehatan mental menjadi fondasi utama untuk mencapai kesuksesan. Kemampuan untuk tetap stabil di bawah tekanan atau yang dikenal sebagai resiliensi menjadi faktor penting.
“Resiliensi membuat seseorang mampu berpikir jernih, tidak mudah runtuh, serta cepat beradaptasi dengan perubahan. Individu yang memiliki daya tahan mental yang baik cenderung lebih efisien dan efektif dalam menjalani kehidupan,” ujarnya.
Namun, tekanan berkepanjangan dapat memicu kelelahan yang terbagi menjadi dua, yaitu kelelahan fisik dan mental. Fatigue atau kelelahan menjadi alarm awal yang ditandai dengan menurunnya fokus, bahkan bisa memicu microsleep akibat aktivitas kerja yang berlebihan.
Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi burnout, yaitu kelelahan kronis yang tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga mental. Penderita burnout cenderung mudah marah, kehilangan motivasi, hingga bersikap apatis.
“Berbeda dengan kelelahan biasa, burnout tidak bisa diatasi hanya dengan istirahat atau sekadar healing, melainkan membutuhkan penanganan lebih serius,” tambahnya.
Untuk mencegah kondisi tersebut, terdapat beberapa teknik sederhana yang dapat dilakukan untuk mengelola stres. Salah satunya adalah teknik pomodoro, yaitu mengatur waktu kerja dalam interval tertentu yang diselingi dengan istirahat singkat.
Selain itu, teknik pernapasan juga dapat membantu menenangkan pikiran, dengan cara menarik napas selama empat detik, menahannya selama empat detik, lalu melepaskannya secara perlahan.
Teknik lainnya adalah metode grounding 5-4-3-2-1, yang melibatkan pancaindra untuk mengembalikan fokus. Misalnya dengan menyebutkan lima hal yang dilihat, empat yang disentuh, tiga yang didengar, dua yang dirasakan, dan satu hal yang disyukuri.
Dengan memahami tekanan mental di era modern serta cara mengelolanya, masyarakat diharapkan mampu menjaga keseimbangan hidup, sehingga tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan mental.











