BIONS 299: Nyepi dan Idulfitri Berdekatan, Momentum Perkuat Toleransi dan Kesadaran Spiritual

  • Share
Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 299

RBN || Jakarta

Perayaan Hari Raya Nyepi dan Idulfitri yang berlangsung berdekatan tahun ini dinilai memiliki makna mendalam bagi kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Indonesia. Kedua momentum tersebut menjadi pengingat penting akan nilai toleransi, kesadaran diri, serta pentingnya menjaga harmoni di tengah keberagaman.

Dalam tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 299, Sabtu (21/3/2026), Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan, Pemuda & Perlindungan Anak PHDI Pusat, Tri Nuryatiningsih E. Mantik, menyebut kedekatan waktu antara Nyepi dan Idulfitri bukan sekadar kebetulan, melainkan sarat makna spiritual.

“Hari Nyepi hampir bersamaan dengan Idul Fitri, hal ini bukan suatu kebetulan, ada campur tangan Tuhan. Nyepi dan Idul Fitri sebagai pengingat bahwa Indonesia dibangun dalam keberagaman, meskipun jalan spiritual beda, tetapi tujuannya sama yaitu menjadi manusia yang lebih toleran, peduli sesama, dan khusyuk terhadap keyakinan masing-masing,” ujarnya.

Menurutnya, momentum ini menuntut masyarakat untuk semakin bijak dalam menjaga perasaan dan saling memahami satu sama lain.

“Hari raya yang hampir bersamaan membuat kita harus pandai menjaga perasaan dan saling memahami,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, Nyepi dan Idulfitri sama-sama mengandung pesan reflektif yang kuat. Nyepi identik dengan keheningan yang mengajak manusia berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan, sementara Idulfitri menjadi simbol kembali kepada kesucian dan fitrah, serta memperkuat nilai saling memaafkan.

“Baik Nyepi maupun Idul Fitri, keduanya mengingatkan bahwa kehidupan yang bermakna selalu dimulai dari kesadaran diri dan hati yang bersih,” katanya.

Lebih lanjut, Nuryatiningsih menyoroti adanya kesamaan nilai dalam kedua perayaan tersebut, terutama dalam hal pengendalian diri. Dalam Nyepi, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, salah satunya amati geni yang dimaknai sebagai pengendalian api, simbol emosi dan ego. Sementara itu, umat Muslim menjalankan ibadah puasa untuk menahan hawa nafsu dan meningkatkan empati terhadap sesama.

Ia juga menilai bahwa perbedaan cara dalam beribadah tidak mengurangi esensi yang sama, yaitu mengingat kebesaran Tuhan dan memperbaiki diri.

“Keheningan Nyepi dan gema takbir Idul Fitri menyampaikan pesan yang sama, yaitu untuk mengingat kebesaran Tuhan, meskipun dengan cara yang berbeda. Walaupun melalui jalan spiritual yang berbeda, keduanya memiliki tujuan yang sama,” jelasnya.

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, Nuryatiningsih menegaskan pentingnya membangun toleransi melalui tindakan nyata dan komunikasi yang baik.

“Toleransi merupakan sikap yang diwujudkan dalam tindakan sederhana,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa komunikasi memiliki peran penting dalam menjembatani perbedaan agar tidak menimbulkan konflik di tengah masyarakat yang majemuk.

“Setiap agama memiliki ruang spiritual yang harus dihormati, serta memahami bahwa setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mendekatkan diri kepada Tuhan,” pungkas Tri Nuryatiningsih E. Mantik.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *