RBN || Jakarta
Perubahan menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Namun, di balik proses tersebut, muncul berbagai tantangan psikologis yang kerap dirasakan, terutama di tengah dinamika kehidupan modern yang semakin cepat.
Psikolog dan Founder Matahariku Daycare, Mariana, S.Psi., M.Psi. dalam tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 303, Sabtu (18/4/2026), menjelaskan bahwa rasa takut terhadap perubahan merupakan hal yang wajar. Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan cara kerja otak manusia yang cenderung mencari rasa aman.
Perubahan tidak hanya menghadirkan hal baru, tetapi juga menuntut seseorang untuk meninggalkan sesuatu yang sudah dikenal, termasuk keluar dari zona nyaman.
Fenomena perubahan juga terlihat jelas pada generasi saat ini. Anak-anak dan remaja kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget dibandingkan berinteraksi langsung seperti generasi sebelumnya. Kondisi ini memicu tekanan sosial yang lebih besar, termasuk kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain.
“Tantangan mental sekarang yaitu harus cepat, harus terlihat berhasil, dan sering membandingkan diri dengan pencapaian orang lain,” ujar Mariana.
Tekanan tersebut berpotensi memicu kelelahan mental hingga overthinking, terutama ketika individu merasa harus selalu memenuhi standar yang ditampilkan di lingkungan digital.
Lebih lanjut, Mariana menyoroti fase transisi sebagai salah satu periode paling menantang secara emosional. Pada fase ini, seseorang berada di antara kondisi lama yang sudah ditinggalkan dan masa depan yang belum pasti.
“Kita harus berhenti menuntut diri untuk langsung jelas karena semua ada prosesnya, kemudian fokus pada langkah kecil terlebih dahulu, serta tetap bertahan, jangan menyerah,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa krisis dalam hidup tidak selalu bermakna kegagalan. Justru, krisis dapat menjadi tanda bahwa seseorang sedang mengalami proses pertumbuhan.
“Kekuatan unik bukan sesuatu yang terlihat di awal, tetapi tumbuh pelan-pelan dari proses yang tidak mudah,” katanya.
Menurut Mariana, krisis muncul ketika versi diri yang lama sudah tidak lagi relevan, sementara versi diri yang baru belum sepenuhnya terbentuk.
Dalam konteks keluarga, perubahan juga berdampak pada pola pengasuhan, khususnya bagi generasi Z yang tumbuh di era digital. Orang tua dituntut untuk lebih memahami karakter dan kebutuhan anak yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
Salah satu tantangan terbesar adalah proses “melepaskan”, yang kerap menjadi dilema emosional bagi orang tua.
“Melepaskan bukan berarti menjauh, tetapi belajar untuk percaya bahwa anak bisa belajar mandiri dan beradaptasi dengan teman-temannya,” ujar Mariana.
Dengan memahami proses perubahan secara utuh, baik individu maupun keluarga diharapkan mampu beradaptasi lebih sehat, menjaga keseimbangan mental, serta menjadikan setiap fase kehidupan sebagai bagian dari proses bertumbuh.











