RBN || Jakarta
Kesiapan kerja atau career readiness dinilai tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan teknis maupun soft skill, tetapi lebih pada kematangan kompetensi secara menyeluruh. Hal ini penting untuk menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja yang kerap kali memiliki tuntutan berbeda.
Hal ini disampaikan oleh Psikolog, Sonia Natasha, M.Psi., CHRMP, dalam tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 302 pada Sabtu (11/4/2026). Ia menjelaskan bahwa dunia profesional sering menghadirkan situasi yang tidak selalu diajarkan di bangku pendidikan. Lulusan sekolah, menurutnya, kerap belum sepenuhnya siap menghadapi realitas kerja.
Ia menekankan bahwa kesiapan kerja menjadi kunci penting dalam membantu individu bertransisi dari dunia pendidikan ke dunia profesional.
“Kesiapan kerja bukan hanya soal teknis, karena dunia kerja sangat kompleks, di mana banyak sekali tuntutan, seberapa mampu seseorang tidak hanya memanage pekerjaan tetapi juga bisa memanage dirinya dan orang lain,” ujarnya.
Sonia menilai masih terdapat kesenjangan yang cukup besar antara teori akademis dan praktik di lapangan. Banyak aspek penting seperti kemampuan analisis, komunikasi, pemecahan masalah, hingga membangun relasi yang belum sepenuhnya diasah selama masa pendidikan.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya manajemen karier sebagai bagian dari kesiapan kerja. Menurutnya, setiap individu perlu memahami arah pengembangan diri dan potensi yang dimiliki agar mampu mengelola perjalanan karier secara lebih terarah.
“Career management tidak hanya soal kenaikan jabatan tetapi pengembangan skill dan pengetahuan,” ujar Sonia.
Ia menambahkan, perencanaan karier menjadi hal penting agar seseorang mampu mengenali minat, bakat, dan kemampuan yang dapat dikembangkan di masa depan.
Dalam menghadapi perubahan yang terus terjadi, Sonia mengingatkan pentingnya kemampuan beradaptasi atau agility. Menurutnya, individu perlu memiliki kepekaan terhadap lingkungan dan mampu melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang.
Hal ini dapat dilatih dengan berinteraksi dengan lingkungan yang positif dan terbuka terhadap berbagai perspektif.
Di sisi lain, Sonia juga menekankan pentingnya sinergi antara etika kerja dan kepemimpinan dalam membentuk reputasi profesional. Nilai-nilai seperti integritas, disiplin, dan tanggung jawab menjadi fondasi utama dalam dunia kerja.
“Etika kerja yang baik akan mempengaruhi leadership. Jika etika kerja dan leadership bersinergi dengan baik maka akan memberikan performa kerja yang profesional,” jelasnya.
Selain itu, kemampuan bekerja sama dan komunikasi juga menjadi faktor penting. Ia menegaskan bahwa hampir semua pekerjaan membutuhkan kolaborasi untuk mencapai tujuan bersama.
Adaptasi terhadap perkembangan teknologi juga menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Namun, Sonia mengingatkan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia.
Ia menyarankan agar penggunaan teknologi diimbangi dengan peningkatan literasi dan kemampuan analisis.
Pada akhirnya, kesiapan kerja juga berkaitan erat dengan produktivitas. Sonia menilai produktivitas tidak bisa dicapai secara instan, melainkan melalui pembiasaan dan pemahaman tujuan dalam bekerja.
“Orang yang sudah memiliki kesiapan kerja, dia cenderung akan lebih produktif karena dia tahu bekerja tidak untuk mengimpresi orang lain,” pungkasnya.
Dengan memahami konsep kesiapan kerja secara utuh, diharapkan generasi muda dapat lebih siap menghadapi tantangan dunia profesional yang dinamis dan kompetitif.











