BIONS 304: Dampak “Haus Validasi” di Media Sosial terhadap Kesehatan Mental

  • Share
Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 304

RBN || Jakarta

Fenomena mengejar validasi di media sosial kian menjadi perhatian dalam isu kesehatan mental. Pola ini dinilai berpotensi memengaruhi kondisi psikologis seseorang, terutama ketika penilaian diri terlalu bergantung pada respons orang lain.

Dalam tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 304, pada Sabtu (25/4/2026), Psikolog, Konselor, & Pegiat Kemanusiaan, Maya Sita Darlina, S.Psi., M.Psi, menjelaskan bahwa penggunaan media sosial yang tidak bijak dapat menjadi salah satu faktor yang mengganggu kesehatan mental. Ia menyoroti konsep dalam psikologi, yakni lokus kontrol internal dan eksternal.

Menurutnya, ketika seseorang lebih banyak mengambil keputusan berdasarkan penilaian orang lain, maka risiko gangguan mental akan meningkat.

“Memosting sesuatu agar mendapatkan validasi tetapi mengubah jati diri merupakan ketidakjujuran,” ujar Maya.

Ia juga menjelaskan alasan mengapa banyak orang terlihat lebih percaya diri di dunia maya dibandingkan di dunia nyata. Salah satunya karena media sosial memberikan kontrol penuh terhadap citra diri.

Pengguna dapat mengatur tampilan, menyunting foto, hingga membangun identitas yang diinginkan. Namun, kondisi ini justru berisiko membuat seseorang kehilangan jati diri karena sulit membedakan antara perasaan asli dan citra yang dibangun.

Lebih lanjut, Maya menilai bahwa keinginan untuk terus mendapatkan validasi dapat memicu kelelahan mental atau burnout. Hal ini terjadi karena individu merasa harus selalu mengikuti tren dan ekspektasi di media sosial.

Selain itu, perbandingan sosial yang terus-menerus juga menjadi pemicu tekanan mental, terutama ketika respons yang diterima tidak sesuai harapan.

“Media sosial harus digunakan secara bijaksana, atau mindful scrolling, yaitu tujuan scrolling untuk mencari berita,” ujar Maya.

Untuk menjaga kesehatan mental, ia menyarankan agar penggunaan media sosial dibatasi dan memiliki tujuan yang jelas, seperti mencari informasi yang bermanfaat. Selain itu, penting untuk menyeimbangkan waktu antara dunia maya dan dunia nyata, serta tidak menggunakan waktu istirahat hanya untuk berselancar di media sosial.

“Tips agar algoritma tidak memberikan efek buruk yang menjadi indikator sikap kita, bisa dengan membagikan postingan yang mengandung proses, bukan suatu pencapaian yang instan,” tambahnya.

Maya juga menyarankan langkah digital detox, seperti mengatur waktu penggunaan media sosial, menentukan durasi scrolling, serta meluangkan waktu untuk refleksi diri. Menulis hal-hal yang disukai juga dapat membantu seseorang mengenali nilai diri sehingga tidak mudah kehilangan jati diri.

Ia menekankan pentingnya membangun pondasi mental yang kuat, seperti sikap tangguh (resilience), kemampuan beradaptasi (agility), serta menjadi “teman” bagi diri sendiri.

Menurutnya, stabilitas mental dapat dijaga dengan melatih validasi internal atau self validation, serta fokus pada hal-hal yang berada dalam kendali diri, seperti nilai hidup dan tujuan pribadi.

Dengan penggunaan yang lebih bijak, media sosial diharapkan tidak lagi menjadi sumber tekanan, melainkan sarana yang mendukung perkembangan diri secara positif.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *