RBN || Jakarta
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Kondisi ini diperkirakan berdampak pada 429 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia, termasuk Jakarta dan sejumlah daerah padat penduduk lainnya.
Berdasarkan hasil analisis BMKG, sebagian wilayah Indonesia akan lebih dahulu memasuki puncak kemarau pada Juli 2026, terutama di beberapa daerah Sumatera, Kalimantan bagian tengah dan utara, serta sebagian wilayah Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua bagian barat. Sementara itu, wilayah lain diprediksi mencapai puncak kemarau pada September 2026.
Memasuki Agustus, kondisi kering diperkirakan semakin meluas dan mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia. Daerah yang berpotensi mengalami puncak kemarau pada periode ini meliputi Sumatera bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, seluruh Bali dan Nusa Tenggara, serta sebagian Maluku dan Papua.
BMKG juga memproyeksikan bahwa musim kemarau tahun ini cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal. Sebanyak 451 ZOM atau sekitar 64,5 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami sifat kemarau Bawah Normal, sementara 35,1 persen lainnya berada pada kategori Normal.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia diperkirakan akan mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya. Kondisi tersebut menjadi perhatian penting, terutama bagi sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, dan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
Meski demikian, BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan mulai melakukan langkah antisipatif sejak dini. Dengan kesiapan yang baik serta pemanfaatan informasi cuaca dan iklim secara tepat, dampak musim kemarau dapat diminimalkan sehingga aktivitas masyarakat tetap berjalan dengan aman dan produktif.
Sumber: CNN Indonesia











