BIONS 191: Gen X dan Gen Z Mencari Bahagia di Era Digital, Fleksibilitas dan Empati Jadi Kunci

  • Share
BIONS Seri 191

RBN || Jakarta

Perbedaan cara pandang antara Generasi X dan Generasi Z sering dianggap sebagai jurang dalam komunikasi. Namun, dua narasumber lintas generasi, Rita Erna Mayasari, S.Kom (Gen X) dan Iqbal Caraka Ramadhan (Gen Z), menilai perbedaan itu justru bisa menjadi ruang belajar bersama untuk mencapai kebahagiaan jangka panjang, asal ada fleksibilitas dan kemauan saling memahami. Hal tersebut diungkapkan dalam tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 191, Sabtu (17/1/2026).

Rita menegaskan, kebahagiaan bagi Gen X tidak semata-mata soal stabilitas, tetapi juga kemampuan beradaptasi. Menurutnya, fleksibilitas penting agar seseorang tidak kaku menghadapi perubahan zaman, termasuk dalam menyesuaikan pola komunikasi dengan Gen Z.

“Antar generasi harus saling memahami dan mengerti untuk mencapai kebahagiaan jangka panjang,” ujar Rita.

Senada, Iqbal menilai kebahagiaan tidak identik dengan pencapaian yang sempurna. Di era digital, kebahagiaan justru lebih dekat dengan keaslian, berani menjadi diri sendiri. Ia mengatakan, fleksibilitas membuat Gen Z merasa lebih bebas mencoba hal baru tanpa takut gagal dan bisa mengekspresikan diri dengan lebih jujur.

Dalam perbincangan tersebut, teknologi disebut sebagai alat penting untuk mempertemukan dua generasi yang tumbuh dalam situasi berbeda. Rita menyebut media sosial dan kecerdasan buatan (AI) membantu Gen X memahami perkembangan budaya Gen Z, sekaligus memudahkan cara berkomunikasi.

Menurut Rita, teknologi membuat Gen X tidak lagi tertinggal dari dunia anak muda. Dengan media sosial, orang tua bisa membaca tren, cara berpikir, hingga gaya bahasa Gen Z yang terus berubah cepat.

Salah satu tantangan terbesar dalam hubungan Gen X dan Gen Z adalah gaya komunikasi. Gen X dikenal lebih langsung (direct), sedangkan Gen Z lebih aware, terutama pada isu validasi emosi dan kesehatan mental.

Iqbal menyebut kerap terjadi kesalahpahaman karena kedua gaya komunikasi itu diterjemahkan berbeda.

“Gen X melihat direct communication sebagai efisiensi. Gen Z melihat sensitivitas sebagai bentuk validasi,” kata Iqbal.

Namun menariknya, Iqbal menegaskan Gen Z sebenarnya tidak menyukai komunikasi yang penuh basa-basi. Gen Z justru lebih nyaman berbicara to the point, tetapi tetap sopan.

“Gen Z lebih senang berkomunikasi secara to the point tetapi tetap sopan,” ujarnya.

Rita menambahkan, pada masa Gen X tumbuh, teknologi belum semaju sekarang. Hal itu membuat banyak Gen X tidak terbiasa mengekspresikan perasaan secara terbuka, termasuk soal kondisi mental. Karena itu, ia menyarankan Gen X perlu belajar masuk ke dunia Gen Z agar komunikasi lebih terbuka.

Gen X, kata Rita, sering memakai cara mengalah dan lebih banyak mendengarkan untuk membangun kedekatan.

Saat ditanya bagaimana peta kebahagiaan bagi Gen X, Rita menekankan bahwa definisi bahagia setiap orang pasti berbeda. Karena itu, ia mengingatkan agar masyarakat bersikap bijak menghadapi perubahan zaman: mengikuti yang baik, meninggalkan yang buruk.

Bagi Gen Z, teknologi diakui sangat penting untuk konektivitas dan mendukung pekerjaan. Namun, Iqbal mengingatkan penggunaan berlebihan bisa berujung pada kecanduan dan keterasingan dari dunia nyata.

Sebagai solusi, Iqbal mengaku lebih memilih JOMO (Joy of Missing Out) dibanding FOMO (Fear of Missing Out).

“Lebih memilih JOMO dibanding FOMO karena mementingkan prioritas, mengalokasikan waktu untuk hal-hal yang berguna,” ujar Iqbal.

Rita juga menyampaikan cara sederhana untuk mengatasi FOMO yaitu tidak terpancing tren dan tidak ikut-ikutan.

“Jangan mudah terpancing dan tidak usah ikut-ikutan. Harus punya pendirian dan jadi diri sendiri aja,” tegas Rita.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *