RBN || Jakarta
Perjalanan Evalia Bakery menjadi salah satu contoh transformasi UMKM yang berhasil beradaptasi di tengah perubahan zaman. Bermula dari dapur kecil di rumah, usaha kuliner ini kini dikenal luas berkat inovasi dan keberanian memasuki dunia digital. Hal ini disampaikan oleh pemilik Evalia Bakery, Sutrisno, dalam tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 283, Sabtu (22/11).
Pendiri Evalia Bakery, Sutrisno, menceritakan bahwa usaha ini lahir dari kesederhanaan dan kecintaan terhadap makanan rumahan. Nama Evalia diambil dari nama sang anak. Awalnya Sutrisno hanya membuat donat, gorengan, dan jajanan sekolah. Perlahan ia mulai membeli peralatan bakery, memproduksi roti dalam jumlah kecil, dan menjualnya ke sekolah, warung, serta melayani pesanan.
“Kuncinya kemauan untuk bertahan dan menghadirkan produk yang berkualitas. Harus konsisten membuat produk rumahan yang fresh,” ujar Sutrisno.
Titik balik terjadi ketika ia melihat perubahan perilaku konsumen, terutama anak muda yang mulai mencari makanan melalui aplikasi online. Melihat peluang besar di pasar digital, ia bergabung dengan program Jakpreneur dan mendapatkan pembinaan dari komunitas UMKM.
“Pasar digital penting untuk memasarkan produk dengan mudah, teratur, dan lebih luas sehingga bisnis tumbuh lebih cepat,” tambahnya.
Menurut Sutrisno, transformasi digital membawa perubahan signifikan dari tiga sisi utama: produksi, promosi, dan penjualan.
Di sisi produksi, sistem digital membantu merumuskan resep lebih akurat, memprediksi permintaan, serta mengurangi potensi pemborosan bahan baku. Proses menjadi lebih terukur dan efisien.
Dalam promosi, perubahan terasa sangat besar. Jika sebelumnya hanya mengandalkan brosur atau dari mulut ke mulut, kini Evalia Bakery memanfaatkan media sosial dengan foto produk yang menarik, konten rapi, dan strategi digital marketing. Jangkauan menjadi jauh lebih luas.
Digitalisasi juga membuka pintu penjualan baru melalui marketplace, layanan pesan antar, dan sistem pemesanan online yang membuat pelanggan bisa membeli kapan saja.
“Teknologi bukan hanya mempermudah, tetapi juga membuat usaha ini lebih dikenal, terukur, dan tidak terbatas,” kata Sutrisno.
Transformasi Evalia Bakery tidak lepas dari kontribusi dunia pendidikan. Perguruan tinggi, lembaga pelatihan, serta mahasiswa magang memberikan wawasan baru terkait inovasi produk, manajemen higienitas, dan teknik produksi.
“Peran akademisi dan lembaga pelatihan membuat proses inovasi lebih terukur, ilmiah, dan relevan dengan kebutuhan pasar,” ungkap Sutrisno.
Melalui kolaborasi ini, Evalia Bakery mendapatkan analisis tren, riset konsumen, hingga evaluasi efektivitas promosi digital. Pendekatan akademis membantu bisnis lebih adaptif dan berbasis data.
Menurut Sutrisno, tantangan terbesar dalam transformasi digital bukanlah alat atau aplikasi, melainkan mengubah pola pikir tim.
“Adaptasi teknologi relatif mudah, tapi mengubah kebiasaan manual menjadi digital membutuhkan waktu,” jelasnya.
Evalia Bakery harus membangun budaya kerja baru: transparan, cepat, dan akurat. Diskusi intensif, pembelajaran rutin, serta komunikasi antar-tim menjadi kunci agar perubahan berjalan mulus.
Tetap mempertahankan ciri khas juga menjadi tantangan tersendiri. Meski memanfaatkan teknologi modern, Evalia Bakery tetap mengutamakan rasa lokal serta karakter produk yang menjadi identitas merek.
Transformasi digital Evalia Bakery tidak hanya menguntungkan bisnis, tetapi juga memberikan manfaat bagi karyawan dan pemasok lokal. Proses produksi yang lebih tertata membuat beban kerja lebih terukur, memberi kesempatan peningkatan kompetensi, serta menciptakan lingkungan kerja yang stabil.
Di sisi pemasok, digitalisasi mempermudah pemesanan bahan baku dan meningkatkan hubungan kerja yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Dengan langkah digital dan semangat kolaborasi, Evalia Bakery membuktikan bahwa UMKM rumahan pun mampu tumbuh dan bersaing di era ekonomi digital, asal berani beradaptasi, terus belajar, dan konsisten berinovasi.











