BIONS 313: Sinergi Sekolah dan Guru BK Dinilai Kunci Mencetak Generasi Tangguh di Era Digital

  • Share
Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 313

RBN || Jakarta

Peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah terus berkembang seiring meningkatnya tantangan yang dihadapi peserta didik, terutama di era digital. Guru BK kini tidak lagi dipandang sebagai “polisi sekolah”, melainkan menjadi pendamping yang berperan membantu siswa menghadapi berbagai persoalan sekaligus merancang masa depan mereka.

Hal tersebut disampaikan oleh Pengawas KCD Wilayah III Provinsi Jawa Barat, Rojali, S.Pd., MA, dalam tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 313, Sabtu (4/7/2026) mengenai peran guru BK, pengawas, dan seluruh ekosistem sekolah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan peserta didik.

Menurut Rojali, guru BK saat ini memiliki tanggung jawab yang jauh lebih luas. Selain menjadi pendamping, guru BK juga harus berperan sebagai motivator, fasilitator, sekaligus mampu membangun kolaborasi dengan berbagai pihak.

Ia menjelaskan, sinergi tidak hanya dilakukan dengan kepala sekolah dan guru di lingkungan sekolah, tetapi juga dengan orang tua serta lingkungan tempat tinggal siswa.

“Peran guru BK sekarang di samping sebagai pendamping, motivator, dan fasilitator juga harus mampu berkolaborasi dengan berbagai pihak. Tugas guru BK berjalan selama 24 jam untuk mendampingi siswa sehingga kerja sama dengan orang tua dan lingkungan menjadi sangat penting,” ujarnya.

Sementara itu, pengawas sekolah memiliki peran memberikan pembinaan kepada guru BK agar layanan bimbingan dan konseling di sekolah dapat berjalan optimal. Pengawas juga menjadi penghubung antara guru BK dan kepala sekolah sehingga koordinasi dalam penyelenggaraan layanan dapat berlangsung dengan baik.

Rojali mengakui masih banyak siswa yang memandang guru BK sebagai sosok yang identik dengan pemberian sanksi. Padahal, menurutnya, peran tersebut telah bergeser menjadi pendamping yang memahami kondisi psikologis dan perkembangan siswa.

“Guru BK sekarang mampu membaca situasi siswa ketika ada masalah dan menguatkan siswa ketika ada di posisi kesulitan,” ujar Rojali.

Meski demikian, ia menilai pelayanan guru BK masih menghadapi kendala, terutama terkait jumlah tenaga yang belum sebanding dengan kebutuhan sekolah. Idealnya, seorang guru BK mendampingi lima kelas, tetapi di lapangan banyak guru BK harus menangani hingga 12 kelas sekaligus.

Kondisi tersebut membuat beban kerja guru BK semakin berat dan berdampak pada optimalisasi layanan kepada siswa.

Dalam mendukung peningkatan kualitas layanan, pengawas sekolah terus mendorong penguatan kompetensi guru BK melalui berbagai program pembinaan. Salah satunya dengan memastikan tersedianya ruang konseling yang nyaman bagi siswa.

Selain itu, Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) juga rutin dilaksanakan setiap bulan sebagai wadah berbagi pengalaman dan menambah wawasan para guru BK.

Pengawas juga menjalin kerja sama dengan perusahaan maupun perguruan tinggi agar guru BK memperoleh pengetahuan baru yang dapat diterapkan dalam mendampingi siswa.

“Sense of belonging guru BK harus berkali-kali lipat dari guru lain karena memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan masa depan siswa,” kata Rojali.

Menurutnya, perkembangan teknologi menghadirkan dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, teknologi mampu meningkatkan kemampuan generasi muda. Namun di sisi lain, penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat membuat siswa kehilangan motivasi belajar.

Karena itu, guru BK memiliki peran penting membantu siswa merencanakan masa depan, termasuk memfasilitasi pembekalan keterampilan melalui kerja sama dengan pelaku usaha lokal agar siswa memiliki bekal setelah lulus sekolah.

Rojali menambahkan, terciptanya sekolah yang aman dan nyaman membutuhkan sinergi antara kepala sekolah, guru mata pelajaran, guru kelas, guru BK, pengawas, hingga orang tua.

Ia menekankan pentingnya membangun budaya sekolah yang ramah anak melalui sikap sederhana yang ditunjukkan para pendidik.

“Sekolah wajib ramah anak, yaitu guru rajin tersenyum, tidak boleh berkata sembarangan, menyambut setiap anak dengan hangat, agar sekolah terasa nyaman. Menghindari ancaman, baik verbal maupun nonverbal kepada anak oleh guru dan teman-temannya,” ujar Rojali.

Selain menciptakan suasana belajar yang positif, guru BK juga diharapkan aktif berkomunikasi dengan orang tua ketika menemukan permasalahan pada siswa. Diskusi dan koordinasi yang dilakukan secara rutin dinilai menjadi salah satu kunci dalam mendampingi perkembangan peserta didik secara optimal.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *