RBN || Ukraina
Konflik di Ukraina tidak hanya memperlihatkan intensitas perang modern, tetapi juga menandai era baru dalam pengembangan teknologi ranjau darat. Kini, produksi ranjau bahkan dapat dilakukan di dekat medan tempur menggunakan printer 3D, sebelum dirakit, diisi bahan peledak, dan dijatuhkan melalui drone.
Sebagian besar ranjau yang digunakan saat ini dipasang secara jarak jauh, baik melalui artileri, roket, helikopter, maupun drone. Hal ini membuat penyebaran ranjau semakin luas dan sulit dilacak.
Kepala United Nations Mine Action Service (UNMAS) di Ukraina, Paul Heslop, menyebut bahwa teknologi ranjau kini semakin canggih dan berbahaya.
“Kami juga melihat semakin banyak ranjau berteknologi tinggi yang digunakan, sehingga proses deteksi menjadi jauh lebih rumit dan berbahaya,” ujarnya.
Menurut Heslop, ranjau modern kini dilengkapi sensor yang mampu mendeteksi kehadiran petugas penjinak ranjau, baik yang berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan, lalu meledak secara otomatis. Bahkan, beberapa ranjau dapat merespons medan magnet dari alat pendeteksi.
“Teknologi yang Anda gunakan untuk menemukan ranjau justru bisa memicu ranjau tersebut meledak,” katanya.
Peringatan ini muncul bertepatan dengan peringatan Hari Internasional Kesadaran Ranjau pada 4 April. Heslop menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menyeimbangkan perlombaan teknologi antara pengembangan ranjau dan kemampuan untuk menanganinya.
Sejumlah inovasi terus dikembangkan untuk mengatasi ancaman tersebut. Salah satunya adalah memanfaatkan kelemahan dalam cara ranjau dipasang. Karena banyak ranjau kini tidak tertanam di dalam tanah, teknologi drone dan sensor canggih dapat lebih mudah mendeteksinya.
Setelah terdeteksi, perangkat jarak jauh seperti drone atau robot dapat digunakan untuk menetralisir ranjau dengan muatan kecil atau suar.
Meski demikian, jumlah ranjau yang ditanam terus meningkat secara global. “Sejak 2015, jumlah ranjau yang ditanam setiap hari lebih banyak dibandingkan yang berhasil dibersihkan,” ungkap Heslop.
UNMAS memperkirakan lebih dari 20 persen wilayah Ukraina, atau sekitar 139.000 kilometer persegi, telah terkontaminasi ranjau atau bahan peledak yang belum meledak. Dampaknya tidak hanya pada keselamatan manusia, tetapi juga ekonomi, dengan kerugian diperkirakan mencapai lebih dari 11 miliar dolar AS per tahun.
Ranjau darat tidak hanya mematikan, tetapi juga dirancang untuk melumpuhkan. Di Ukraina saja, tercatat lebih dari 60.000 korban amputasi akibat perang.
Selain itu, ancaman ranjau juga berdampak pada psikologis masyarakat. Ketakutan akan keberadaan ranjau membuat banyak lahan tidak dapat digunakan, sehingga memengaruhi kehidupan jutaan warga sipil.
Heslop menegaskan bahwa tujuan utama pembersihan ranjau bukan sekadar menghilangkan ranjau, tetapi memastikan lahan dapat kembali dimanfaatkan secara produktif.
“Tujuan pembersihan ranjau bukan hanya membersihkan ranjau, tetapi memastikan bahwa lahan tersebut bisa digunakan kembali untuk hal yang lebih produktif,” ujarnya.
Namun, proses deteksi seringkali tidak mudah. Di wilayah bekas pertempuran, banyak serpihan logam yang membuat sensor sulit membedakan antara ranjau dan pecahan material lain.
“Hal ini membuat proses pembersihan ranjau menjadi sangat tidak efisien,” katanya.
Untuk mengatasi hal tersebut, teknologi baru kini dikembangkan untuk mendeteksi bahan peledak secara langsung, bahkan mengenali lapisan plastik pada ranjau.
Heslop juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir dalam menghadapi tantangan ini.
“Petugas penjinak ranjau tidak boleh terlalu kaku dalam pendekatan. Kita perlu menggabungkan ide lama dengan teknologi baru,” ujarnya.
Salah satu pendekatan baru adalah penggunaan kecerdasan buatan (AI), kamera resolusi tinggi, dan drone untuk membantu mendeteksi area aman. Teknologi ini juga dapat dikombinasikan dengan alat lama seperti penggulung ranjau untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat, khususnya petani, bahwa lahan aman digunakan.
AI juga mampu mempercepat pengambilan keputusan dengan menganalisis data dalam jumlah besar hanya dalam hitungan detik, yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam.
Di sisi lain, teknologi juga membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya ranjau.
“Sekarang, jika melihat sesuatu yang berbahaya, orang bisa langsung memotretnya dan mengirimkannya. Petugas bisa segera menilai apakah itu berbahaya atau tidak,” kata Heslop.
Ia mencontohkan program di Afghanistan yang awalnya menargetkan 200.000 orang, namun berhasil menjangkau lebih dari lima juta orang berkat kemajuan teknologi komunikasi.
“Saya rasa kemampuan komunikasi dan respons saat ini jauh lebih baik dibandingkan 30 tahun lalu,” pungkasnya.
Sumber: UN News











