RBN || Teheran
Militer Iran menyatakan delapan personelnya gugur dalam serangan yang disebut dilakukan Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah lokasi militer di wilayah selatan Iran pada Rabu (8/7/2026) dini hari.
Mengutip laporan kantor berita IRNA, militer reguler Iran menyebut para korban berasal dari angkatan udara dan angkatan laut yang sedang menjalankan tugas ketika wilayah Bandar Abbas dan Bushehr diserang.
Dalam pernyataannya, Iran menyebut serangan tersebut sebagai “agresi kriminal” dan menyatakan kedelapan personel tewas akibat tembakan yang menghantam lokasi serangan.
Militer Iran menegaskan akan terus menjalankan tugas mempertahankan negara serta berjanji membalas kematian para personel yang mereka sebut sebagai martir.
Ketegangan antara kedua negara juga diwarnai pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menuduh Amerika Serikat telah melanggar kerangka perjanjian Islamabad yang sebelumnya disepakati kedua negara.
“Sejak langkah pertama, nota kesepahaman antara Iran dan AS disusun bukan atas dasar kepercayaan, melainkan dengan mekanisme ‘komitmen dibalas komitmen’ yang jelas. Hal ini karena tidak ada tanda-tanda iktikad baik dalam perilaku pihak lain,” kata Baghaei dalam unggahan di platform media sosial X, Rabu (8/7/2026).
Baghaei mengatakan tindakan Washington dinilai bertentangan dengan Klausul 5 dalam nota kesepahaman tersebut, yang mengatur tanggung jawab Iran dalam menjamin keselamatan pelayaran kapal-kapal di Selat Hormuz.
Menurutnya, aksi militer AS merupakan bentuk pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah dibangun melalui tindakan sepihak.
“Republik Islam Iran akan dengan tegas memperjuangkan perlindungan kepentingan nasionalnya dan pelaksanaan kedaulatannya,” tegas Baghaei.
Sementara itu, Amerika Serikat disebut kembali melancarkan serangan ke sejumlah lokasi di Iran dengan alasan sebagai respons atas serangan yang menurut pihak AS dilakukan Iran terhadap tiga kapal dagang komersial internasional di Selat Hormuz.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi terbaru dari pemerintah Amerika Serikat yang menanggapi klaim Iran mengenai jumlah korban maupun tuduhan pelanggaran terhadap perjanjian tersebut.
Sumber: Liputan6











