RBN || Pyongyang
Korea Utara kembali melakukan peluncuran rudal balistik jarak pendek dan sejumlah proyektil lainnya ke arah laut pada Selasa (26/5/2026). Aksi tersebut menjadi unjuk kekuatan terbaru Pyongyang di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Semenanjung Korea.
Militer Korea Selatan menyebut rudal diluncurkan dari wilayah Jongju yang berada di pesisir barat Korea Utara. Rudal itu diketahui menempuh jarak sekitar 80 kilometer.
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan juga mengungkapkan Korea Utara menembakkan beberapa proyektil lain dalam peluncuran tersebut, meski tidak merinci jenis persenjataannya.
Pemerintah Korea Selatan menegaskan tetap menjaga kesiapan militer bersama Amerika Serikat untuk mengantisipasi kemungkinan provokasi lanjutan dari Pyongyang. Pengawasan terhadap aktivitas militer Korea Utara juga terus diperketat.
Peluncuran kali ini menjadi uji coba senjata pertama Korea Utara sejak 19 April 2026. Saat itu, Pyongyang menembakkan beberapa rudal jarak pendek yang disebut media pemerintah sebagai simulasi penggunaan hulu ledak bom klaster.
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, diketahui terus memperkuat program nuklir dan pengembangan rudal negaranya sejak diplomasi nuklir dengan Presiden AS Donald Trump gagal mencapai kesepakatan pada 2019.
Trump sebelumnya beberapa kali menyatakan keinginannya untuk melanjutkan dialog dengan Kim Jong Un. Namun hingga kini, Korea Utara belum memberikan respons positif dan justru meminta Washington menghentikan tuntutan pelucutan senjata nuklir sebagai syarat perundingan.
Hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan juga terus memburuk dalam beberapa tahun terakhir. Kim Jong Un bahkan pernah menyebut Korea Selatan sebagai “musuh permanen”.
Di sisi lain, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dalam rapat kabinet terbaru menekankan pentingnya memperkuat kemampuan pertahanan negaranya.
Ia menyoroti pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), sistem drone, hingga potensi pengadaan kapal selam bertenaga nuklir untuk memperkuat militer Korea Selatan.
Meski dikenal mendukung upaya perbaikan hubungan dengan Korea Utara, Lee tidak secara langsung menanggapi ancaman terbaru dari Pyongyang. Namun, ia menegaskan Korea Selatan harus mampu menjaga keamanan nasionalnya sendiri sambil tetap memperkuat aliansi pertahanan dengan Amerika Serikat.
Sumber: Berita Satu











