BIONS 288: Kolaborasi Bisnis Dan Profesional Dinilai Sebagai Kunci Dalam Membangun Ketenagakerjaan Berkelanjutan

  • Share
BIONS 288
BIONS 288

RBN || Jakarta

Kolaborasi antara pelaku bisnis dan tenaga profesional di bidang ketenagakerjaan dinilai menjadi kunci penting dalam membangun ekosistem kerja yang sehat dan berkelanjutan di Indonesia. Sinergi ini tidak hanya menguntungkan kedua belah pihak, tetapi juga berdampak positif bagi pasar tenaga kerja secara keseluruhan.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Hj. Charletty Choesyana Taulu, M.Psi dalam tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 288 pada Sabtu (27/12), yang menilai kolaborasi strategis mampu meningkatkan kesesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan industri. Selain itu, kerja sama ini membuka akses terhadap tenaga kerja berkualitas, mendorong lahirnya program pelatihan yang relevan, serta meningkatkan inovasi dan produktivitas.

“Kolaborasi tersebut menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih efisien, responsif, dan berkelanjutan,” ujar Choesyana.

Ia menambahkan, organisasi perempuan seperti BPW (Business and Professional Women) memiliki harapan besar agar semakin banyak perempuan berani membuka lapangan kerja dan berkolaborasi dengan tenaga profesional di bidang terkait. Menurutnya, seorang entrepreneur bukan sekadar pelaku usaha, tetapi individu inovatif yang mampu menciptakan pasar baru sekaligus membuka peluang kerja bagi orang lain.

Dalam konteks pembangunan jangka panjang, Choesyana mengaitkan peran kolaborasi dan kewirausahaan perempuan dengan visi Indonesia Emas 2045. Visi tersebut merupakan komitmen strategis bangsa untuk menjadi negara maju, berdaulat, adil, dan makmur tepat pada 100 tahun kemerdekaan Indonesia.

Target utama Indonesia Emas 2045 adalah menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari lima kekuatan ekonomi terbesar dunia, dengan pendapatan per kapita tinggi, kualitas sumber daya manusia unggul, serta pembangunan yang berkelanjutan. Pilar utamanya mencakup pembangunan manusia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan, ketahanan nasional, serta tata kelola pemerintahan yang kuat.

“Tujuan utama Indonesia Emas adalah menjadikan Indonesia sebagai negara Nusantara yang berdaulat, maju, dan berkelanjutan,” kata Choesyana.

Choesyana menegaskan bahwa perempuan memegang peran strategis sebagai pilar ekonomi bangsa. Perempuan tidak hanya menjadi penopang ekonomi keluarga, tetapi juga penggerak UMKM, agen sosial budaya, pelestari lingkungan, dan kontributor langsung pembangunan nasional.

Di dalam keluarga, perempuan berperan sebagai agen penanaman nilai sosial dan budaya kepada anak sejak dini. “Ibu mengajarkan nilai-nilai Pancasila sebagai panduan hidup bermasyarakat di masa depan,” ujarnya.

Menurutnya, perspektif dan kekuatan perempuan menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.

Meski perannya besar, Choesyana mengakui perempuan masih menghadapi berbagai hambatan, mulai dari norma sosial dan budaya patriarki hingga lemahnya kepemimpinan perempuan yang berdampak pada rendahnya representasi perempuan di ruang publik dan pengambilan keputusan.

Ia menekankan pentingnya kesadaran perempuan akan kesehatan dan hukum, agar memahami hak asasi manusia, kesetaraan, serta hak memperoleh layanan kesehatan dan pendidikan yang layak.

“Solusinya adalah kampanye kesadaran agar perempuan sadar sehat, sadar politik, sadar maju, dan sadar menuntut ilmu,” jelasnya.

Choesyana juga mengangkat filosofi “ibu bangsa”, yakni perempuan Indonesia yang mempersiapkan generasi penerus dengan wawasan kebangsaan dan rasa tanggung jawab terhadap masa depan bangsa. Menurutnya, perempuan karier yang memiliki wawasan kebangsaan tidak hanya maju untuk dirinya sendiri, tetapi juga membawa harapan mengharumkan nama Indonesia.

Konsep “masa depan berwajah perempuan”, lanjut Choesyana, menegaskan pentingnya penegakan kesetaraan gender sejak sekarang. Tanpa kesetaraan, banyak perempuan berisiko terjebak dalam ketertinggalan dan keterbatasan akses pendidikan serta informasi.

“Warna bangsa ke depan sangat ditentukan oleh perempuan,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Choesyana menekankan perlunya pendidikan inovatif dan penguatan keterampilan tambahan bagi perempuan agar mampu bersaing di tingkat global. Ia juga mengingatkan pentingnya kesiapan menghadapi perkembangan teknologi.

“Sudah saatnya perempuan Indonesia bersahabat dengan kecerdasan buatan atau AI agar tidak tertinggal,” pungkasnya.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *