RBN || Jakarta
Kolaborasi gender kembali menjadi sorotan dalam diskusi kepemimpinan modern. Bukan sebagai slogan kesetaraan, tetapi sebagai strategi rasional yang menentukan daya tahan sebuah organisasi maupun bangsa. Hal itu ditegaskan oleh Dr. Kapten Eddy Sumartono S. dalam tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 287, Sabtu (20/12).
Prof Eddy menilai bahwa mengakui perbedaan biologis, psikologis, dan sosial antara laki-laki dan perempuan justru menjadi fondasi kepemimpinan yang lebih matang.
Menurutnya, organisasi yang memahami perbedaan tersebut mampu memanfaatkan kapasitas manusia secara komplementer.
“Ketika perbedaan diakui secara rasional, kepemimpinan tidak terjebak pada ego kekuasaan, tetapi bertumpu pada keseimbangan daya pikir, empati, dan tanggung jawab jangka panjang,” ujarnya.
Prof Eddy menilai dominasi gaya kepemimpinan maskulin sering menekankan kecepatan, kompetisi, dan hasil instan. Meski terlihat efektif di awal, pola ini berpotensi menciptakan kelelahan struktural dan konflik berkepanjangan.
“Kepemimpinan maskulin cenderung lebih tegas dan keras. Kehadiran gender feminin bisa menjadi penyeimbang,” ujar Prof Eddy.
Ketika suara alternatif terpinggirkan, organisasi kehilangan mekanisme koreksi. Hal ini membuat struktur kepemimpinan rapuh dan sulit bertahan dalam jangka panjang.
Dalam praktik kepemimpinan, kecepatan mengambil keputusan seringkali berbenturan dengan kebutuhan menjaga sensitivitas sosial. Prof Eddy menawarkan solusi yaitu kepemimpinan kolektif.
Keputusan cepat harus didukung data dan pengalaman, sementara kebijaksanaan sosial hadir melalui dialog dan partisipasi. Dengan demikian, kebijakan tidak hanya efektif secara administratif, tetapi juga memiliki legitimasi sosial yang kuat sehingga implementasinya lebih stabil dan berjangka panjang.
Keberhasilan kolaborasi gender tidak ditentukan oleh jumlah perempuan dalam ruangan rapat, melainkan kualitas keputusan yang dihasilkan. Indikator utamanya meliputi keterwakilan nyata dalam posisi strategis, kebijakan yang mempertimbangkan dampak sosial jangka panjang, budaya organisasi yang menghargai dialog lintas perspektif, serta meningkatnya ketahanan organisasi dalam menghadapi krisis.
“Kolaborasi sejati terlihat dari kebijakan, bukan sekadar simbol kehadiran,” tegas Prof Eddy.
Prof Eddy mengingatkan bahwa bangsa yang masih membatasi kontribusi perempuan akan kehilangan sebagian besar potensi inovasi dan kepemimpinan alternatif. Dalam kompetisi global, hal ini menjadi kerugian strategis.
Ketika separuh populasi tidak diberi ruang, negara akan kehilangan energi kreatif, perspektif baru, dan ketahanan sosial.
Pendidikan, menurut Prof Eddy, adalah ruang paling awal yang harus dibenahi. Kurikulum, metode belajar, hingga evaluasi perlu mendorong kerja kolaboratif berbasis empati.
“Pemimpin harus menciptakan budaya aman secara psikologis, di mana setiap individu dihargai,” ujarnya.
Pendekatan ini mencegah pendidikan berubah menjadi arena kompetisi ego dan menjadikannya laboratorium kepemimpinan kolaboratif yang sehat.
Suara Generasi Muda: Pelajaran dari Rumah
I Gede Rama Adijaya, seorang pelajar yang turut memberikan pandangan, menegaskan bahwa nilai kolaborasi gender sesungguhnya sudah dapat dipelajari sejak kecil di rumah. Ia mengaku banyak belajar dari ibunya tentang pentingnya menghargai sesama, menjaga perilaku dan perkataan, serta hidup dengan disiplin dan kesederhanaan.
“Ibu selalu mengajarkan hidup sederhana,” ujar Rama.
Ia juga menyinggung bagaimana perempuan maupun laki-laki sama-sama memiliki hak untuk mengekspresikan emosi. Namun baginya, kesedihan bukanlah solusi.
“Dalam menghadapi tekanan, sedih bukanlah jalan keluar. Tidak boleh berlarut dalam kesedihan,” pungkas Rama.











