BIONS 286: Perempuan Harus Jadi Penentu, Bukan Penonton di Era AI

  • Share
BIONS 286: Perempuan Harus Jadi Penentu, Bukan Penonton di Era AI
BIONS 286: Perempuan Harus Jadi Penentu, Bukan Penonton di Era AI

RBN || Jakarta

Perubahan besar akibat digitalisasi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menempatkan perempuan Indonesia pada persimpangan penting: menjadi penonton atau penentu arah perubahan. Di tengah transformasi dunia kerja yang kian cepat, peran perempuan profesional dinilai semakin strategis dalam membentuk masa depan.

Hal tersebut disampaikan oleh Vice President Business Professional Women (BPW) Indonesia, Fiyatri Widuri, S.T., dalam tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 286, Sabtu (13/12).

Beliau menegaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir perempuan profesional telah menghadapi berbagai disrupsi, mulai dari digitalisasi hingga perkembangan AI. Namun, kesenjangan akses teknologi masih membuat sebagian perempuan bersikap pasif terhadap perubahan.

“Perempuan memiliki pilihan. Jika pasif, mereka akan tertinggal. Tapi jika beradaptasi dan memanfaatkan AI, perempuan justru bisa menjadi penggerak perubahan,” ujarnya.

Menurut BPW Indonesia, era AI tidak hanya menuntut kemampuan teknis, tetapi juga cara berpikir baru. Literasi digital menjadi kunci agar perempuan profesional mampu memahami risiko, dampak, dan peluang penggunaan teknologi.

Kemampuan adaptasi, ketangguhan (resilience), serta keberlanjutan dinilai sebagai fondasi utama. Literasi digital juga mencakup pemahaman tentang keamanan data pribadi dan etika penggunaan teknologi.

“Perempuan harus mampu mengidentifikasi manfaat dan risiko teknologi. Di sisi lain, pemerintah juga perlu didorong untuk menghadirkan regulasi perlindungan penggunaan AI,” kata Widuri.

BPW Indonesia menilai AI bisa menjadi ancaman atau justru akselerator, tergantung pada kesiapan perempuan dalam menghadapinya. Jika perempuan tidak mau beradaptasi, AI berpotensi memperlebar ketertinggalan. Sebaliknya, jika dimanfaatkan dengan tepat, AI dapat mempercepat kinerja dan mendorong inovasi.

“AI bisa membantu pekerjaan menjadi lebih cepat dan kreatif. Tapi keterampilan konvensional tetap penting dan harus terus ditingkatkan,” jelasnya.

Dalam mendorong inovasi, BPW menekankan dua hal utama, yakni akses dan edukasi. Perempuan perlu memahami cara kerja AI, termasuk pengelolaan algoritma, agar teknologi tersebut dapat digunakan untuk menciptakan solusi dan inovasi baru.

BPW Indonesia menargetkan perempuan tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pemimpin dalam pemanfaatan teknologi.

Karakter adaptif dan berlandaskan nilai (value-based) dinilai penting bagi perempuan di era AI. Nilai-nilai tersebut menjadi panduan dalam menyikapi perubahan dan mendorong lahirnya regulasi yang berpihak pada nilai-nilai positif, kemanusiaan, dan keadilan.

Sebagai langkah konkret, BPW Indonesia telah menggelar berbagai pelatihan digital bagi pelaku UMKM, termasuk di wilayah pesisir. Selain itu, BPW juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Kementerian HAM serta aktif memberikan edukasi ke sekolah-sekolah terkait dampak perundungan dan penggunaan AI.

“BPW ingin bergerak secara integratif dan kolaboratif dengan berbagai pemangku kepentingan,” ujarnya.

BPW Indonesia berharap digitalisasi dapat menjadi ruang yang aman dan ramah bagi perempuan dan anak-anak, bukan sumber ancaman baru.

“Teknologi seharusnya membuat perempuan dan anak-anak merasa aman, nyaman, dan terlindungi. Perempuan juga harus aktif menyuarakan nilai-nilai kehidupan yang positif di tengah perubahan,” pungkasnya.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *