BIONS 285: Perempuan Harus Menjadi Pemimpin Arah Transformasi di Era AI

  • Share
BIONS 285
BIONS 285

RBN || Jakarta

Jakarta — Perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI) terus mengubah cara manusia bekerja dan mengambil keputusan. Kondisi ini dinilai membuka ruang lebih besar bagi kepemimpinan perempuan untuk tampil dan memimpin perubahan. Hal tersebut disampaikan oleh Presiden Business Professional Women (BPW) Indonesia, Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., dalam tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 285, Sabtu (6/12).

Menurut Giwo, AI bukan sekadar alat teknologi, melainkan pendorong lahirnya pola kepemimpinan yang lebih cerdas, strategis, dan cepat beradaptasi.

“Kepemimpinan perempuan di era AI bukan soal harus ahli teknologi, tetapi bagaimana kita mampu menggunakan AI sebagai alat untuk memimpin lebih cerdas,” tegas Giwo.

AI dinilai dapat menjadi panduan dalam menentukan strategi perubahan. Dengan kemampuan membaca data, memperhitungkan risiko, dan memprediksi peluang, AI membantu pemimpin perempuan merancang pelayanan publik maupun bisnis yang inovatif.

“AI membantu pemimpin perempuan untuk melihat peluang, mempercepat digitalisasi layanan, dan mendorong kemajuan organisasi,” ujar Giwo.

Dalam kesempatan tersebut, Giwo juga menjelaskan mengenai peran Business Professional Women (BPW) sebagai organisasi global pemberdayaan perempuan yang didirikan di Jenewa pada 1930 dan kini memiliki anggota di lebih dari 130 negara. BPW merupakan anggota resmi UN Women dan menjadi jejaring internasional yang memperjuangkan kesetaraan ekonomi perempuan.

Sebagai afiliasi resmi BPW International, BPW Indonesia berfungsi sebagai jembatan antara perempuan profesional dan pelaku usaha nasional dengan jaringan global.

BPW Indonesia memiliki visi memperkuat solidaritas dan kolaborasi perempuan profesional untuk menciptakan nilai sosial dan memperkuat tata kelola ekonomi.

Upaya itu diwujudkan melalui misi BPW Indonesia untuk mengembangkan potensi bisnis, profesional, dan kepemimpinan wanita di semua tingkatan, melalui advokasi, pelatihan, pendampingan, jejaring, pengembangan keterampilan, dan program serta kerja sama pemberdayaan ekonomi di tingkat dunia.

“Di era AI, kami ingin memastikan perempuan tidak sekadar mengikuti teknologi, tetapi memimpin arah transformasi,” tambah Giwo.

Meski peluang terbuka lebar, Giwo menegaskan masih banyak tantangan yang harus dihadapi, di antaranya rendahnya literasi digital perempuan, minimnya perempuan dalam sektor pengembangan AI, risiko bias algoritma ketika perempuan tidak terwakili, serta ancaman otomatisasi pekerjaan.

Karena itu, perempuan didorong untuk meningkatkan kemampuan digital dan aktif dalam pengambilan keputusan terkait teknologi.

“Pemimpin perempuan perlu membuka pelatihan digital dan memastikan perempuan hadir dalam pengambilan keputusan teknologi,” tutupnya.

Dengan dorongan akses, pelatihan, dan kepemimpinan yang inklusif, perempuan diharapkan bukan hanya menjadi pengguna teknologi, namun juga menjadi pengendali arah perubahan di era kecerdasan artifisial.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *