RBN || Maiduguri
Sedikitnya 23 orang tewas dan lebih dari 100 lainnya mengalami luka-luka akibat serangkaian serangan bom bunuh diri di Kota Maiduguri, Nigeria timur laut, Senin (16/3/2026). Serangan ini mengguncang kota yang dalam beberapa tahun terakhir relatif lebih aman setelah konflik panjang bergeser ke wilayah pedesaan.
Pihak berwenang menyebutkan ledakan terjadi di beberapa titik strategis, yakni kantor pos, area pasar, serta pintu masuk Rumah Sakit Pendidikan Universitas Maiduguri. Serangan terjadi saat waktu berbuka puasa atau iftar di bulan Ramadan.
Wilayah kantor pos dan pasar tersebut sebelumnya memang kerap menjadi target serangan pada puncak pemberontakan kelompok Boko Haram, ketika Maiduguri masih menjadi pusat konflik.
Sepuluh tahun lalu, tepat pada bulan yang sama, kota ini juga mengalami serangan besar yang menewaskan 58 orang dan melukai lebih dari 140 lainnya dalam empat ledakan bom bunuh diri, menjadikannya salah satu hari paling mematikan dalam sejarah Maiduguri.
Serangan terbaru ini terjadi hanya sehari setelah serangan terhadap pos militer di pinggiran kota, ibu kota Negara Bagian Borno, pada Minggu malam hingga Senin dini hari.
Meski belum ada kelompok yang secara resmi mengaku bertanggung jawab, otoritas Nigeria menyatakan bahwa serangan tersebut diduga dilakukan oleh pelaku bom bunuh diri dari kelompok Boko Haram menggunakan bahan peledak rakitan.
“Serangan pengecut ini menargetkan area publik yang ramai dalam upaya untuk menimbulkan korban massal dan menciptakan kepanikan di dalam kota,” ujar juru bicara militer Nigeria, Sani Uba, dalam pernyataannya.
Konflik yang melibatkan Boko Haram dan kelompok pecahannya, termasuk Islamic State West Africa Province (ISWAP), telah menyebabkan lebih dari 2 juta orang mengungsi dan ratusan ribu lainnya tewas di wilayah tersebut.
Kelompok Boko Haram didirikan pada 2002, namun mulai meningkatkan serangan setelah pemimpinnya saat itu, Mohammed Yusuf, tewas pada 2009. Di bawah kepemimpinan Abubakar Shekau, kelompok ini semakin agresif dan kemudian terpecah, dengan ISWAP menjadi faksi yang lebih dominan.
Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas teror lebih banyak terjadi di wilayah pedesaan di luar Maiduguri. Hingga serangan bom di sebuah masjid pada malam Natal tahun lalu yang menewaskan sedikitnya lima orang, kota ini relatif tidak mengalami serangan besar sejak 2021.
Gubernur Borno, Babagana Zulum, pada April tahun lalu sempat memperingatkan adanya kebangkitan kembali kelompok militan. Namun, peringatan tersebut dinilai belum mendapat perhatian serius.
Menanggapi situasi terbaru, Presiden Nigeria Bola Tinubu yang tengah melakukan kunjungan kenegaraan ke Inggris, langsung menginstruksikan pejabat keamanan untuk segera menuju Maiduguri.
Ia meminta aparat untuk mengendalikan situasi dan menumpas pelaku serangan.
“Untuk mengambil alih situasi dan menemukan mereka, menghadapi mereka, serta mengalahkan mereka sepenuhnya,” tegas Tinubu.
Sumber: The Guardian











