RBN || Jakarta
Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah memunculkan pertanyaan besar mengenai siapa sebenarnya yang memperoleh keuntungan dari perang tersebut. Para analis menilai bahwa dalam konflik modern, pihak yang paling diuntungkan sering kali bukan negara yang bertempur di garis depan, melainkan aktor ekonomi dan geopolitik di luar medan perang.
Salah satu sektor yang mendapat keuntungan adalah industri pertahanan global, karena setiap eskalasi konflik meningkatkan permintaan terhadap berbagai jenis persenjataan seperti rudal, sistem pertahanan udara, drone tempur, hingga teknologi militer canggih yang bernilai miliaran dolar. Selain itu, konflik di kawasan yang menjadi pusat produksi minyak dunia juga berpotensi memicu lonjakan harga energi global, sehingga negara dan perusahaan energi dapat memperoleh keuntungan dari meningkatnya permintaan serta ketidakstabilan pasokan minyak dan gas.
Di sisi lain, perang juga memengaruhi keseimbangan geopolitik internasional karena negara-negara besar berupaya memperluas pengaruh strategisnya di kawasan tersebut. Namun di balik potensi keuntungan ekonomi dan politik bagi sebagian pihak, para analis menegaskan bahwa korban terbesar dari konflik tetaplah masyarakat sipil yang hidup di wilayah perang karena mereka harus menghadapi dampak langsung berupa kerusakan, korban jiwa, serta ketidakstabilan sosial dan ekonomi.
Sumber: BBC











