BIONS 278: Merancang Pendidikan Dan Masa Depan Dengan AI

  • Share
BIONS 278: Merancang Pendidikan Dan Masa Depan Dengan AI
BIONS 278: Merancang Pendidikan Dan Masa Depan Dengan AI

RBN || Jakarta

Saat ini, perkembangan teknologi membuat manusia seolah-olah sedang dipahat oleh AI yang memengaruhi selera, kebiasaan berpikir, bahkan cara berinteraksi. Hal ini disampaikan oleh Animator dan Wakil Dekan 3 FFTV IKJ, Fajar Nuswantoro, dalam tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 278, pada Sabtu (18/10).

Menurut Fajar, keberadaan AI menjadi sebuah kemajuan yang membantu kita dalam berproduksi. Ada saatnya proses dan profesi manusia hilang sebagai konsekuensi dari cepatnya perkembangan teknologi, sehingga kehadiran AI memaksa manusia untuk meningkatkan kualitas produk dan jasa.

“Dampak positif AI adalah memaksa manusia untuk mengeksplorasi hal-hal yang belum pernah dipikirkan sebelumnya,” ujar Fajar.

AI hanya mereplikasi data yang sudah ada, kemudian disusun ulang, dan dibuat seolah-olah data baru. AI meramu pengetahuan yang sudah ada dengan kecepatan yang luar biasa, bukan menciptakan hal-hal baru.

DNA Bangsa yang terdiri dari nilai, kearifan lokal, dan karakter yang menjadi identitas kita. Namun, AI kini menjadi gerbang utama informasi, bahkan turut membentuk cara pandang generasi muda, yang sering kali didorong oleh algoritma yang bersifat global dan seragam.

“Sebelum ada AI, DNA lokal kita sudah terkikis oleh serangan budaya luar,” ujar Fajar.

Fajar menjelaskan bahwa saat ini lebih banyak animasi dari luar negeri yang diputar di tv nasional, dibandingkan animasi dalam negeri. Kemunculan AI justru akan semakin melemahkan DNA lokal. Oleh karena itu, anak bangsa perlu membuat karya-karya yang memuat DNA dan budaya lokal.

Dalam ranah pendidikan, AI menjadi gudang dari berbagai jawaban instan yang sangat efisien. Namun, fungsi pendidikan seharusnya memberikan kemampuan problem solving bagi manusia untuk menyelesaikan berbagai masalahnya. Pendidikan harus menciptakan manusia-manusia yang kreatif agar bisa menghadapi kehidupannya.

Tantangan terbesar AI adalah meniru aspek yang tak kasat mata, seperti moral, nurani, dan empati. AI bisa meniru wajah, suara, dan gaya bercerita, tapi ia tidak memiliki ‘hati’ atau ‘rasa bersalah’.

“AI membantu dan memudahkan kita untuk mencapai tujuan, asal kita tidak kehilangan arah, dan tahu apa yang kita inginkan,” kata Fajar.

Fajar menekankan bahwa AI tidak bisa memberikan nyawa pada karir. Seniman tidak hanya menciptakan karya, tetapi juga harus memberikan nyawa kepada karyanya.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *