RBN || Jakarta
Kehadiran AI memiliki manfaat untuk membantu pekerjaan manusia, namun di sisi lain, AI juga memberikan dampak negatif apabila manusia tidak bisa mengontrol penggunaan AI. Hal ini disampaikan dalam tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 276 yang menghadirkan Digital Strategist & AI Expert, Bayu Starriawan dan Life Coach, Penulis Buku Error 404 Human Not Found, Astrid Hendra, pada Sabtu (4/10).
Penggunaan AI dapat mendukung pekerjaan manusia sehingga terjadi peningkatan efisiensi dan produktivitas. AI memberikan analisis data dengan cepat dan akurat yang memudahkan dalam pengambilan keputusan.
“AI membantu membuat ide, struktur, script video, dan penyusunan pesan yang ingin disampaikan. AI membantu produktivitas kita,” ujar Bayu.
“Saat ini, AI menjadi tools yang murah, pintar, dan cepat, sehingga membantu pekerjaan kita,” ujar Astrid.
Astrid menjelaskan bahwa penggunaan AI tidak boleh membuat manusia kehilangan dirinya sendiri. Kita harus bisa melepaskan diri dari planet AI dengan tidak memegang gadget dalam kurun waktu tertentu, seperti sebelum tidur dan sesudah bangun tidur. Ambil jeda sejenak untuk menarik nafas dan mengenali diri sendiri agar bisa menyaring informasi yang beredar di media sosial.
Gen Z yang hidup di era digital memiliki kreativitas dan adaptif terhadap teknologi, namun mereka banyak yang merasa tertekan karena ketatnya persaingan, bahkan dengan mesin.
“Skill yang dibutuhkan Gen Z di tempat kerja adalah komunikasi, sebab mereka terbiasa komunikasi satu arah. Perbanyak interaksi dengan sesama manusia agar emosi, perasaan, dan kehangatan tetap terjaga,” kata Astrid.
Kecanggihan AI terkadang menjadi tempat bagi beberapa orang untuk memvalidasi perasaan mereka, sehingga timbul kekhawatiran bahwa manusia lebih nyaman berinteraksi
dengan mesin. Lambat laun AI akan menghilangkan personality seseorang dan mengurangi kemampuan manusia berinteraksi dengan sesamanya.
“Dibutuhkan edukasi agar orang-orang bisa menggunakan AI dengan sewajarnya,” ujar Bayu.
“AI sebetulnya berhalusinasi. AI seharusnya menjadi teknologi yang tidak boleh terlalu Anda percayai,” ungkap Astrid.
Di tengah era kecerdasan buatan, AI bisa menjadi alat untuk menciptakan dunia yang lebih baik (utopia) atau justru menyeret kita ke masa depan yang suram (distopia). Oleh karena itu, manusia harus pandai memilah mana yang baik dan buruk. Serta menggunakan AI sesuai dengan kebutuhan, tidak berlebihan.
“Tetap terhubung dan berkomunikasi dengan sesama manusia, mempunyai teman-teman dekat untuk bercerita, siapapun yang bercerita jangan langsung menghakimi karena setiap orang itu tidak sempurna,” ujar Astrid.
“Seringkali kita tidak mau tampil apa adanya karena melihat orang lain sempurna. Pengaruh media sosial membuat orang-orang mencari jalan instan, padahal untuk mencapai apapun itu memerlukan proses,” tutup Bayu.











