BIONS 274: Pemberdayaan Komunitas Lokal Dalam Revolusi Ekowisata

  • Share
BIONS 274: Pemberdayaan Komunitas Lokal Dalam Revolusi Ekowisata
BIONS 274: Pemberdayaan Komunitas Lokal Dalam Revolusi Ekowisata

RBN || Jakarta

Pasca pandemi, tren pariwisata menunjukkan pergeseran besar. Wisatawan kini lebih mencari pengalaman yang sehat, dekat dengan alam, dan memberi makna. Momentum ini menjadi peluang emas bagi Indonesia untuk mengarahkan pariwisatanya menuju model ekowisata yang lebih berkelanjutan.

Pariwisata adalah kegiatan meramu apa yang ada di sekitar menjadi produk yang menarik untuk dikunjungi. Produk yang dihasilkan berasal dari kombinasi berbagai elemen, seperti alam, manusia, beserta adat budaya. Hal ini disampaikan oleh Chairman A & T Holiday, Awan Aswinabawa, pada acara Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 274 pada Sabtu (20/9).

“Tantangan ekowisata yaitu menjaga konsistensi dari produk-produk wisata agar bisa sustainable. Perlu menjamin konsistensi produk ekowisata dengan desain yang mengedepankan pelestarian alam dan produk budaya,” ujar Awan.

Awan menjelaskan bahwa strategi menghadapi persaingan ekowisata adalah membuat produk wisata yang berkualitas karena tidak hanya menyenangkan wisatawan, tetapi juga tidak mudah untuk ditiru. Dengan demikian, terjadi kompetisi perbaikan kualitas produk yang berdampak baik pada pariwisata dan komunitas lokal. Masyarakat lokal perlu dijadikan mitra kerja agar mereka lebih sadar terkait peningkatan kualitas wisata didaerahnya sehingga menjadi wisata yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Awan menambahkan bahwa seringkali masyarakat lokal tidak menyadari kebiasaan mereka memiliki nilai jual tinggi. Oleh karena itu, tugas pelaku pariwisata adalah memberdayakan masyarakat lokal sebagai mitra kerja dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya tetapi tetap dalam bimbingan, supaya komunitas lokal bangga terhadap keunikan yang dimiliki daerahnya. Masyarakat lokal harus sadar bahwa mereka memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi produk wisata.

Di era digital, teknologi telah mengubah wajah pariwisata secara drastis. Informasi destinasi, pemesanan tiket, hingga promosi kini serba online dan terkoneksi global.

“Teknologi adalah sebuah keniscayaan, suatu fenomena yang tidak bisa kita hindari. Kita harus bisa beradaptasi dengan teknologi yang ada. Pemerintah dan pelaku pariwisata perlu melibatkan teknologi untuk promosi dan memasarkan produk pariwisata,” kata Awan.

Saat ini, wisatawan tidak lagi hanya mencari destinasi yang indah, tetapi juga pengalaman yang autentik, bermakna, dan bertanggung jawab. Di tengah persaingan global, pelestarian budaya dan lingkungan menjadi salah satu hal yang krusial.

“Beberapa tempat wisata sudah ada pembatasan wisatawan dengan tujuan untuk membantu melestarikan alam, karena jika ingin berkelanjutan, mau tidak mau kita harus menjaga alam. Eksistensi usaha pariwisata adalah untuk menggali potensi alam, budaya, dan masyarakat, serta menjaga dan menumbuhkan kembangkan,” tutup Awan.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *