RBN || Teheran
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas seiring mandeknya negosiasi terkait program nuklir Teheran. Persoalan utama yang menjadi batu sandungan adalah nasib uranium yang telah diperkaya Iran, yang kini menjadi titik tarik-menarik kepentingan kedua negara.
Pemerintah Amerika Serikat disebut mengajukan lima syarat utama dalam upaya mencapai kesepakatan baru dengan Iran. Salah satu tuntutan paling krusial adalah agar sekitar 400 kilogram uranium milik Iran diserahkan kepada AS. Selain itu, Washington juga meminta pembatasan fasilitas nuklir Iran dan hanya mengizinkan satu fasilitas tetap beroperasi.
Syarat lain mencakup penghentian konflik di berbagai kawasan, penahanan pencairan sebagian aset Iran yang dibekukan, serta penolakan terhadap kompensasi perang. Informasi tersebut dilaporkan media Iran, Fars News Agency, yang mengutip sumber terkait proses negosiasi.
Di sisi lain, Iran juga mengajukan sejumlah tuntutan balasan. Teheran meminta penghentian perang di berbagai front konflik, pencabutan sanksi ekonomi, pencairan aset yang dibekukan, pembayaran kompensasi perang, serta pengakuan hak kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Washington tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Bahkan, Trump menyatakan AS akan mengambil alih pasokan uranium yang telah diperkaya milik Iran.
“Kita akan mendapatkan uranium itu dengan cara apa pun. Mereka tidak akan memiliki senjata nuklir,” ujar Trump saat berbicara di Gedung Putih.
Pernyataan tersebut langsung mendapat respons keras dari Teheran. Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa uranium yang telah diperkaya tidak boleh keluar dari wilayah Iran dalam kondisi apa pun.
Menurut sumber senior Iran, keputusan itu diambil karena pemerintah Iran meyakini pengiriman uranium ke luar negeri justru akan membuat negara mereka semakin rentan terhadap tekanan dan serangan militer di masa mendatang.
Situasi ini menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan damai masih penuh tantangan. Meski dialog terus berlangsung melalui mediasi internasional, kedua negara tetap mempertahankan posisi masing-masing. Ketegangan terkait uranium kini bukan hanya soal energi nuklir, melainkan juga menyangkut kedaulatan, keamanan nasional, dan keseimbangan geopolitik kawasan Timur Tengah.
Sumber: Detik News











