Drone Shahed Iran Jadi Senjata Utama Hadapi AS–Israel, Pakar Nilai Taktik Perang Asimetris

  • Share
Drone Shahed-136 milik Iran saat dipakai Rusia memerangi Ukraina. Foto: REUTERS/STRINGER

RBN || Teheran

Konflik antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali memanas setelah Teheran dilaporkan mengerahkan ratusan drone Shahed-136 dalam serangan ke berbagai target strategis di kawasan Timur Tengah.

Drone tersebut digunakan secara masif sejak Iran diserang pada 28 Februari lalu. Dalam berbagai serangan balasan, Iran dilaporkan menargetkan sejumlah fasilitas penting, termasuk kedutaan besar AS, sistem radar, bandara, hingga gedung-gedung yang berkaitan dengan kepentingan AS dan Israel di kawasan.

Para analis militer menilai penggunaan drone Shahed merupakan bagian dari strategi Iran untuk melemahkan kekuatan militer lawan yang jauh lebih besar. Drone ini dikenal memiliki biaya produksi murah dan relatif mudah dibuat dalam jumlah besar.

Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, Dan Caine, menyebut armada drone Iran sebagai ancaman nyata bagi Washington.

Dalam pengarahan yang dikutip dari NBC News, Caine mengatakan sistem pertahanan udara AS telah berhasil menghadapi serangan tersebut.

Namun, sejumlah pengamat menilai pernyataan tersebut justru menunjukkan tantangan baru bagi AS. Pasalnya, sistem pertahanan udara yang mahal harus digunakan untuk menghadapi drone murah yang diproduksi secara massal.

Harga satu unit drone Shahed diperkirakan berkisar antara 30.000 hingga 50.000 dolar AS atau sekitar Rp505 juta hingga Rp843 juta. Sementara itu, sistem pertahanan seperti rudal Patriot yang digunakan untuk menembaknya memiliki biaya berkali lipat lebih mahal.

Peneliti senior dari lembaga pemikir Stimson Center di Amerika Serikat, Kelly Grieco, menilai situasi tersebut dapat menjadi persoalan jika konflik berlangsung lama.

“Jika (konflik) ini berlangsung lama, mereka mungkin harus menemukan cara yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, peneliti dari organisasi Center for Information Resilience di London, Kyle Glen, mengatakan Iran sejak awal telah menyadari bahwa mereka menghadapi kekuatan militer yang lebih unggul secara teknologi.

Karena itu, Teheran memilih pendekatan perang asimetris untuk menekan lawannya.

Menurut Glen, strategi ini dilakukan dengan menggunakan teknologi yang relatif sederhana namun efektif untuk mengganggu sistem militer yang lebih canggih.

Drone Shahed menjadi contoh utama dari pendekatan tersebut. Drone ini diproduksi menggunakan komponen dual-use yang mudah diperoleh dan dapat diluncurkan dari kendaraan seperti truk.

Selain itu, proses perakitannya juga bisa dilakukan secara tersembunyi tanpa memerlukan infrastruktur besar seperti pembuatan rudal.

“Drone tersebut memang dirancang Iran untuk perang seperti ini,” kata Glen.

Penggunaan drone murah dalam jumlah besar kini menjadi salah satu taktik militer yang dinilai mampu mengimbangi kekuatan teknologi negara-negara besar, sekaligus menciptakan tekanan ekonomi dan operasional bagi sistem pertahanan lawan.

Sumber: CNN Indonesia

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *