RBN || Jakarta
Di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi pilar utama dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional. Di era di mana dunia bisnis bergantung pada teknologi dan konektivitas digital, keberadaan UMKM menjadi semakin vital dalam menopang pertumbuhan ekonomi inklusif menuju visi Indonesia Emas 2045. Hal ini disampaikan oleh Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Institut Media Digital Emtek (IMDE), Ir. Adrian Ingratubun, MM dalam tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 281, Sabtu (8/11).
“Pilar utama dalam menghidupkan dunia bisnis adalah pertumbuhan ekonomi yang diprakarsai oleh UMKM,” ujar Adrian.
“Dengan ruang terbuka, kesiapan UMKM akan bertumbuh secara baik dalam meningkatkan kemampuannya di era globalisasi.”
Menurutnya, kunci menghadapi tantangan globalisasi adalah penguasaan teknologi digital. Perguruan tinggi pun memiliki peran penting sebagai inkubator bisnis, melahirkan lulusan-lulusan berkompeten yang mampu mendorong inovasi dan mendukung UMKM dalam menghadapi persaingan global.
Perkembangan era digital membawa berbagai keuntungan bagi UMKM, mulai dari perluasan akses pasar, peningkatan kualitas layanan, hingga efisiensi biaya operasional. Melalui pemanfaatan teknologi, UMKM dapat menjangkau konsumen lintas daerah bahkan lintas negara tanpa harus memiliki toko fisik.
“Hadirnya teknologi membuat kita bisa bersaing di pasar dunia untuk meningkatkan ekonomi nasional,” ungkapnya.
Namun, kemajuan teknologi juga menghadirkan tantangan baru bagi pelaku UMKM. Tantangan tersebut bukan alasan untuk mundur, melainkan peluang untuk beradaptasi dan tumbuh.
“Tantangan bukan berarti membuat kita mundur, tapi harus membuat kita maju — mengubah tantangan menjadi peluang,” tegasnya.
UMKM diharapkan terus meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, memperluas pengetahuan digital, serta aktif mengikuti pelatihan dan seminar agar mampu bersaing di pasar modern.
Selain itu, kolaborasi dan dukungan pemerintah sangat dibutuhkan. Pemerintah diharapkan membuka ruang pelatihan, memperluas akses teknologi, serta menerapkan kebijakan yang berpihak pada UMKM. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia bisnis, dan masyarakat dinilai menjadi kunci dalam membangun ekosistem UMKM yang tangguh di era digital.
Salah satu hasil nyata dari transformasi digital adalah meningkatnya penggunaan e-commerce. Platform ini memungkinkan pelaku UMKM melakukan transaksi jual-beli barang dan jasa secara online dengan biaya operasional yang lebih efisien.
“UMKM dapat memanfaatkan e-commerce untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan penjualan produk,” ujarnya.
Melalui pelatihan digital, pelaku UMKM dapat memperkenalkan produknya ke audiens global tanpa harus memiliki toko fisik.
Selain e-commerce, media sosial juga menjadi alat penting dalam membangun kesadaran merek (brand awareness) dan komunikasi dengan pelanggan. Platform seperti Instagram, TikTok, dan Facebook tidak hanya menjadi sarana promosi, tetapi juga ruang interaksi yang membangun kepercayaan konsumen.
Dalam menjalankan bisnis online, keamanan data juga menjadi prioritas. UMKM disarankan menggunakan kata sandi yang kuat, melakukan pencadangan (backup) data secara berkala, serta memahami etika keamanan digital.
Untuk memperluas jangkauan promosi, pelaku usaha juga dapat memanfaatkan digital marketing, yakni strategi pemasaran berbasis internet.
“Digital marketing membantu UMKM meningkatkan kesadaran merek dan penjualan dengan cara yang efisien dan terukur,” tambahnya.
Transformasi digital tidak hanya mengubah cara UMKM beroperasi, tetapi juga membuka peluang baru dalam membangun ekonomi kreatif dan berdaya saing global. Dengan dukungan teknologi, kolaborasi lintas sektor, dan peningkatan literasi digital, UMKM Indonesia berpotensi menjadi motor penggerak utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.











