RBN || Teheran
Pemerintah Iran mulai mempersiapkan upacara pemakaman kenegaraan bagi mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Persiapan dilakukan setelah pelaksanaan pemakaman sempat tertunda dalam waktu yang cukup lama akibat konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Berdasarkan laporan AFP, jadwal pasti pelaksanaan pemakaman masih belum diumumkan. Namun, otoritas Iran telah membentuk markas khusus yang bertugas menyiapkan seluruh rangkaian prosesi penghormatan terakhir bagi tokoh yang memimpin Republik Islam Iran selama lebih dari tiga dekade tersebut.
Televisi pemerintah Iran, mengutip Kepala Dewan Koordinasi Propaganda Islam Mohsen Mahmoudi, menyebut sejumlah lembaga negara kini tengah melakukan koordinasi intensif untuk memastikan kesiapan acara.
“Berbagai organisasi sedang berupaya menyediakan kondisi yang diperlukan, agar setelah diumumkan secara resmi, upacara megah dapat diadakan,” kata Mahmoudi.
Sebelumnya, Iran telah menggelar sejumlah acara penghormatan untuk Khamenei pada April lalu. Namun, pemakaman kenegaraan belum dapat dilaksanakan karena situasi perang yang masih berlangsung.
Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam gelombang pertama serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu. Kematian pemimpin berusia 86 tahun itu menjadi salah satu peristiwa paling berpengaruh dalam sejarah politik modern Iran dan kawasan Timur Tengah.
Putranya yang juga disebut sebagai penerus kepemimpinan, Mojtaba Khamenei, dikabarkan mengalami luka-luka dalam serangan tersebut. Hingga kini, ia belum terlihat di hadapan publik sejak mengambil alih kepemimpinan.
Kabar wafatnya Khamenei diumumkan melalui media Iran dan langsung menjadi perhatian dunia internasional.
“Diumumkan kepada rakyat Iran bahwa Yang Mulia Ayatollah Agung Imam Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam, telah gugur sebagai syahid dalam serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika dan rezim Zionis pada pagi hari Sabtu, 28 Februari,” lapor Tasnim News.
Kepergian Khamenei menandai berakhirnya era kepemimpinan yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Selama memimpin Iran, sosoknya memunculkan beragam penilaian. Para pendukung memandangnya sebagai pemimpin yang membawa perubahan besar bagi negara, sementara kelompok oposisi menilainya sebagai figur yang otoriter.
Khamenei menjadi pemimpin tertinggi Iran pada 1989 setelah wafatnya pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Sejak saat itu, ia memegang peranan sentral dalam arah politik, keamanan, dan kebijakan luar negeri negara tersebut.
Lahir di kota suci Syiah, Mashhad, pada 1939, Khamenei berasal dari keluarga religius yang memiliki pengaruh di kalangan masyarakat Muslim. Ayahnya merupakan seorang ulama terkemuka, sementara ibunya, Khadijeh Mirdamadai, dikenal gemar membaca Al-Quran dan berbagai buku serta mendukung perjuangan anaknya melawan pemerintahan Dinasti Pahlavi.
Sejak usia empat tahun, Khamenei telah menempuh pendidikan agama dan mempelajari Al-Quran. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke sekolah teologi dan berguru kepada sejumlah ulama terkemuka. Perjalanannya membawanya ke pusat-pusat pendidikan Syiah ternama di Najaf dan Qom.
Di Qom, Khamenei menjalin hubungan dekat dengan Ayatollah Khomeini yang saat itu dikenal luas karena sikap perlawanannya terhadap pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Kedekatan tersebut menjadi salah satu faktor yang membentuk perjalanan politik dan keagamaannya.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Khamenei mengajar ilmu fikih dan tafsir agama. Di saat yang sama, ia aktif dalam gerakan oposisi terhadap pemerintahan Pahlavi. Aktivitas politiknya membuat ia beberapa kali ditangkap oleh polisi rahasia SAVAK dan sempat diasingkan ke kota terpencil Iranshahr.
Meski demikian, Khamenei kembali terlibat dalam gerakan perlawanan yang pada akhirnya berkontribusi terhadap runtuhnya pemerintahan Pahlavi dan lahirnya Republik Islam Iran pada 1979.
Sumber: CNN Indonesia











