RBN || Jakarta
Varises kerap dianggap hanya sebagai masalah estetika akibat munculnya urat berwarna kebiruan atau keunguan di kaki. Namun, kondisi ini sebenarnya merupakan bagian dari penyakit vena kronis yang menandakan adanya gangguan pada sistem aliran darah di tungkai bawah.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan, Emanoel Oepangat, menegaskan bahwa varises tidak boleh dipandang sepele.
“Varises adalah sinyal dari sistem sirkulasi yang mulai terganggu, bukan sekadar urat berwarna kebiruan di permukaan kulit,” ujarnya.
Menurut Emanoel, varises biasanya berkembang secara perlahan dan sering kali tidak disadari pada tahap awal. Gejalanya dimulai dari rasa berat pada kaki, nyeri tumpul, hingga mudah lelah setelah beraktivitas. Kondisi ini kemudian berkembang menjadi pembengkakan di pergelangan kaki, terutama pada sore hari.
Seiring waktu, pembuluh darah halus berwarna kebiruan mulai tampak di bawah kulit, diikuti dengan munculnya vena yang menonjol dan berkelok. Pada tahap lebih lanjut, kulit di sekitar betis bawah dapat mengalami perubahan warna menjadi lebih gelap.
Emanoel mengingatkan pentingnya deteksi dan penanganan dini untuk mencegah kondisi semakin memburuk.
“Banyak pasien baru datang ketika sudah muncul keluhan nyeri, bengkak, atau luka di kaki. Padahal, varises adalah kondisi progresif yang semakin sulit diatasi jika dibiarkan terlalu lama,” katanya.
Jika tidak ditangani sejak awal, varises berisiko menimbulkan komplikasi serius, seperti insufisiensi vena kronis, ulkus pada kulit, hingga trombosis vena dalam atau pembekuan darah di pembuluh vena.
Untuk memastikan diagnosis, pasien biasanya akan menjalani pemeriksaan menggunakan Duplex Ultrasound Vaskular. Teknologi ini mampu menilai fungsi katup vena sekaligus mendeteksi lokasi gangguan aliran darah secara akurat.
Hasil pemeriksaan tersebut menjadi dasar dalam menentukan metode penanganan yang tepat. Beberapa terapi yang umum dilakukan antara lain penggunaan kompresi medis untuk memperlancar aliran darah, sclerotherapy melalui penyuntikan cairan khusus untuk menutup vena bermasalah, hingga tindakan minim invasif seperti radiofrequency ablation dan laser vein therapy.
“Penanganan varises dilakukan secara menyeluruh dengan memperbaiki sirkulasi aliran balik, mengembalikan fungsi vena, dan mencegah komplikasi jangka panjang,” jelas Emanoel.
Varises dapat dialami baik oleh pria maupun wanita. Namun, prevalensinya lebih tinggi pada wanita. Data dari Journal of Vascular Surgery dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 25 persen wanita mengalami varises, dibandingkan 10–15 persen pada pria.
Pada pria, varises umumnya muncul dengan gejala seperti rasa berat pada kaki, nyeri setelah berdiri lama, serta pembengkakan di pergelangan kaki. Kondisi ini banyak dialami oleh pekerja yang harus berdiri atau duduk dalam waktu lama, seperti petugas keamanan, tenaga medis, pengemudi, hingga pekerja kantoran.
Sementara itu, wanita memiliki risiko lebih tinggi akibat pengaruh hormonal, terutama saat kehamilan dan menopause.
“Hormon estrogen dan progesteron dapat melemahkan dinding pembuluh darah, sementara tekanan intra-abdomen saat hamil menambah beban kerja vena di tungkai,” tutur Emanoel.
Sumber: Liputan6











