RBN || Jakarta
Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus menjadi sorotan dunia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa konflik militer yang dipicu serangan terhadap Iran hampir mencapai titik akhir. Namun, pernyataan tersebut langsung dibalas oleh pemerintah Iran yang menegaskan bahwa mereka sendirilah yang akan menentukan kapan perang benar-benar berakhir.
Dalam wawancara melalui telepon dengan CBS News pada Senin (9/3/2026), Trump mengatakan operasi militer yang dimulai sejak 28 Februari berjalan lebih cepat dari perkiraan. Ia bahkan mengklaim kemampuan militer Iran telah mengalami kerusakan besar.
“Saya pikir perang ini sudah sangat tuntas, hampir sepenuhnya,” ujar Trump dari klub golfnya di Doral, Florida.
Trump juga menyebut berbagai fasilitas militer Iran telah dihancurkan. Menurutnya, angkatan laut Iran lumpuh, kemampuan komunikasi militer terganggu, serta persediaan rudal dan drone telah menipis setelah serangkaian serangan besar yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel.
Sebelumnya, militer AS menyatakan telah menyerang lebih dari 3.000 target di Iran dalam pekan pertama operasi militer yang dinamai Operation Epic Fury. Trump menilai perkembangan tersebut membuat durasi perang jauh lebih singkat dibandingkan perkiraan awal yang mencapai empat hingga lima minggu.
Meski demikian, pihak Iran memberikan respons tegas terhadap pernyataan tersebut. Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa masa depan konflik di kawasan Timur Tengah berada di tangan angkatan bersenjata Iran.
“Kamilah yang akan menentukan akhir perang,” tegas IRGC dalam pernyataan resminya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menilai operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel gagal mencapai tujuannya. Ia menuding serangan tersebut justru menyasar kawasan permukiman serta infrastruktur energi yang berdampak pada melonjaknya harga minyak dunia.
Araghchi juga menegaskan bahwa Iran tidak lagi mempertimbangkan dialog dengan Amerika Serikat setelah pengalaman pahit dalam perundingan sebelumnya.
Konflik ini menandai babak baru ketegangan geopolitik di Timur Tengah, sekaligus menjadi perhatian dunia karena berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan dan perekonomian global.
Sumber: detiknews











