RBN || Pyongyang
Ketegangan di Semenanjung Korea kembali mengemuka setelah Korea Utara mendesak Korea Selatan mengambil langkah konkret untuk mencegah pelanggaran kedaulatan wilayah udaranya. Seruan tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi yang dimuat Kantor Berita Pusat Korea, Korean Central News Agency (KCNA), pada Jumat (13/2/2026).
Dalam pernyataan tertanggal Kamis (12/2), Kim Yo Jong, Wakil Direktur Departemen Komite Sentral Partai Buruh Korea, menegaskan bahwa permintaan maaf saja tidak cukup untuk meredakan situasi. Ia merujuk pada penyampaian penyesalan resmi dari Menteri Unifikasi Korea Selatan, Jong Tong Yong, pada Selasa (10/2) terkait dugaan penyusupan pesawat tak berawak ke wilayah Korea Utara pada Januari lalu.
Menurut Kim, otoritas Seoul harus memastikan insiden serupa tidak kembali terjadi. “Otoritas Korea Selatan diharuskan mengambil langkah-langkah pencegahan guna memastikan pelanggaran serius terhadap kedaulatan wilayah udara Republik Demokratik Rakyat Korea tidak akan pernah terjadi lagi, alih-alih hanya menutupi masalah dengan ungkapan penyesalan,” tegasnya.
Pernyataan tersebut juga memuat peringatan keras. Pyongyang menegaskan bahwa setiap provokasi yang dianggap melanggar kedaulatan negara akan direspons secara tegas. Sikap ini mencerminkan sensitivitas tinggi Korea Utara terhadap isu keamanan dan integritas wilayahnya, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa stabilitas kawasan sangat bergantung pada komitmen kedua pihak untuk menahan diri.
Insiden ini kembali menggarisbawahi rapuhnya hubungan antar-Korea yang masih dibayangi ketidakpercayaan dan dinamika keamanan regional. Para pengamat menilai, langkah diplomatik yang terukur dan komunikasi terbuka menjadi kunci untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Di tengah ketegangan yang berulang, masyarakat internasional berharap kedua negara dapat memprioritaskan dialog dan menjaga stabilitas kawasan demi perdamaian jangka panjang di Semenanjung Korea.
Sumber: ANTARA











