RBN || Yunnan
Semakin banyak anak muda di Tiongkok memilih meninggalkan kehidupan perkotaan dan menetap di perdesaan. Fenomena ini dipicu oleh tingginya tekanan hidup, biaya hidup yang terus meningkat, serta sulitnya mendapatkan pekerjaan, sehingga kehidupan desa dipandang sebagai alternatif yang lebih tenang dan sederhana.
Media sosial turut memperkuat tren tersebut melalui berbagai konten yang menampilkan kehidupan perdesaan yang damai, asri, dan dekat dengan alam. Salah satunya adalah Zheng Junyu, mantan presenter televisi di Kunming yang memutuskan meninggalkan pekerjaannya pada 2025 untuk menetap di sebuah desa di Provinsi Yunnan. Melalui unggahan di media sosial, ia membagikan kesehariannya yang dianggap lebih tenang dan jauh dari tekanan kehidupan kota.
Fenomena serupa juga terlihat dari meningkatnya jumlah kreator konten yang mempromosikan kehidupan desa. Vlogger seperti Li Ziqi dan Dianxi Xiaoge berhasil menarik jutaan pengikut dengan menampilkan aktivitas bertani, memasak, hingga budaya tradisional Tiongkok yang dikemas secara menarik.
Pemerintah Tiongkok juga mendorong revitalisasi perdesaan melalui kebijakan yang diluncurkan sejak 2017. Program tersebut bertujuan memodernisasi kawasan perdesaan, meningkatkan infrastruktur, serta menarik kembali kaum muda untuk tinggal dan mengembangkan usaha di desa. Data resmi menunjukkan lebih dari 12 juta orang telah kembali ke perdesaan untuk membangun berbagai usaha baru.
Selain biaya hidup yang lebih rendah, berkembangnya infrastruktur seperti akses internet, jalan, serta peluang ekonomi dari sektor pariwisata dan perdagangan digital membuat kehidupan di desa semakin diminati. Banyak wilayah perdesaan kini memiliki fasilitas yang lebih baik sehingga memungkinkan masyarakat bekerja secara jarak jauh tanpa harus tinggal di kota besar.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa gambaran kehidupan desa di media sosial tidak selalu mencerminkan kenyataan. Kehidupan perdesaan tetap memiliki tantangan, seperti terbatasnya lapangan kerja, fasilitas kesehatan, pendidikan, serta pekerjaan pertanian yang membutuhkan tenaga besar dan penghasilan yang tidak selalu tinggi.
Karena itu, para pengamat menilai tren kembali ke desa lebih mencerminkan keinginan generasi muda mencari kualitas hidup yang lebih baik daripada sekadar meninggalkan kehidupan perkotaan. Kehidupan desa memang menawarkan ketenangan, tetapi tidak selalu menjadi solusi mudah bagi seluruh masyarakat.
Sumber: CNA











