RBN || Johor Bahru
Kemenangan telak Barisan Nasional (BN) dalam pemilihan negara bagian Johor memperkuat posisi koalisi tersebut di pemerintahan federal Malaysia sekaligus meningkatkan tekanan terhadap Perdana Menteri Anwar Ibrahim dan koalisi Pakatan Harapan (PH).
Dalam pemungutan suara yang digelar pada 11 Juli 2026, BN berhasil menguasai 48 dari 56 kursi Dewan Undangan Negeri Johor, bertambah delapan kursi dibandingkan pemilu sebelumnya. Sementara itu, PH hanya memperoleh delapan kursi, turun dari 12 kursi pada pemilu 2022.
Para analis menilai kemenangan besar BN didorong oleh kepemimpinan Menteri Besar Johor, Onn Hafiz Ghazi, yang dinilai berhasil membangun citra sebagai pemimpin yang dekat dengan masyarakat serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi negara bagian. Pada 2025, Johor mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen dan berhasil menarik investasi senilai RM110 miliar.
Selain faktor kepemimpinan, kemenangan BN juga dipengaruhi lemahnya oposisi, terutama Perikatan Nasional (PN), yang mengalami perpecahan internal selama masa kampanye. Kondisi tersebut membuat BN mampu merebut kembali sejumlah kursi strategis yang sebelumnya dikuasai lawan.
Di sisi lain, PH dinilai kehilangan sebagian basis dukungan tradisionalnya, khususnya dari pemilih etnis Tionghoa dan India. Beberapa daerah yang sebelumnya menjadi basis kuat Democratic Action Party (DAP) berhasil direbut oleh Malaysian Chinese Association (MCA) dan Malaysian Indian Congress (MIC), yang merupakan partai komponen BN.
Hasil pemilu ini juga menjadi pukulan bagi sejumlah partai kecil. Malaysian United Democratic Alliance (MUDA) kehilangan satu-satunya kursi yang dimilikinya di Johor, sedangkan Parti Bersama Malaysia gagal memperoleh hasil signifikan dalam debutnya mengikuti pemilu.
Meski bersaing di Johor, BN dan PH menegaskan bahwa hasil pemilihan tersebut tidak akan memengaruhi kerja sama mereka dalam pemerintahan persatuan di tingkat federal. Namun, para pengamat menilai kemenangan besar BN akan memperkuat posisi tawar UMNO dalam pemerintahan dan berpotensi meningkatkan dinamika politik antara kedua koalisi.
Perhatian kini tertuju pada pemilihan negara bagian Negeri Sembilan yang akan datang. Hasil pemilu tersebut dipandang sebagai ujian penting bagi Anwar Ibrahim dan Pakatan Harapan untuk membuktikan bahwa mereka masih mampu mempertahankan dukungan publik menjelang pemilihan umum Malaysia yang dijadwalkan paling lambat pada 2028.
Sumber: CNA











