RBN || Jakarta
Pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui Gedung Putih mengonfirmasi bahwa mereka tengah mendiskusikan kemungkinan untuk membeli wilayah Greenland dari Denmark. Pernyataan ini muncul setelah sejumlah pejabat AS menyatakan minat terhadap wilayah tersebut, meskipun Greenland dan Denmark telah berulang kali menegaskan bahwa pulau tersebut tidak untuk dijual.
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengungkapkan bahwa “topik ini sedang dibahas secara aktif oleh Presiden Trump dan tim keamanan nasionalnya.”
Leavitt juga menyebutkan bahwa AS tetap mempertimbangkan semua opsi, meskipun Trump lebih mengutamakan pendekatan diplomatik dalam mencapai tujuannya.
Greenland memiliki peran strategis yang sangat penting bagi keamanan nasional AS. Pulau ini, meskipun memiliki populasi yang sangat sedikit, terletak di antara Amerika Utara dan Kutub Arktik, menjadikannya lokasi ideal untuk sistem peringatan dini dalam menghadapi potensi serangan misil. Selain itu, Greenland juga menjadi tempat bagi Pangkalan Ruang Angkasa Pituffik (dulu Pangkalan Udara Thule) yang sudah dioperasikan oleh AS sejak Perang Dunia II.
Dengan pemanasan global yang menyebabkan mencairnya es, kini lebih banyak sumber daya alam di Greenland yang dapat diakses, termasuk mineral langka, uranium, besi, dan kemungkinan cadangan minyak dan gas.
Meski AS berusaha membangun hubungan lebih erat dengan Denmark dan Greenland, klaim untuk membeli Greenland langsung menimbulkan reaksi keras dari berbagai pihak. Pihak pemerintah Denmark dan sejumlah negara Eropa menyatakan bahwa hanya rakyat Greenland dan Denmark yang berhak memutuskan masa depan wilayah tersebut. Para pemimpin Eropa juga menegaskan pentingnya menjaga integritas wilayah dan kedaulatan negara, termasuk dalam konteks hubungan internasional.
Pernyataan kontroversial dari pihak AS muncul tak lama setelah tindakan militer AS di Venezuela yang menewaskan lebih dari 80 orang, memperburuk ketegangan internasional. Meski demikian, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa AS tidak akan menginvasi Greenland dan bahwa fokus utama mereka adalah mengurangi ancaman dari Rusia dan China di wilayah Arktik.
Wakil Rakyat Denmark yang mewakili Greenland, Aaja Chemnitz, menyatakan kekesalannya atas klaim AS tersebut, menyebutnya sebagai ancaman yang tidak menghormati kedaulatan negara-negara mitra NATO.
“Ini sangat tidak menghormati dari pihak AS untuk tidak menutup kemungkinan untuk mencaplok negara kami,” ungkap Chemnitz.
Dengan adanya ketegangan internasional dan kekhawatiran atas dampak dari klaim AS tersebut, masa depan hubungan antara AS, Denmark, dan Greenland tetap belum pasti. Namun, yang jelas, keputusan ini akan terus memengaruhi geopolitik di wilayah Arktik, serta hubungan internasional yang lebih luas, terutama dengan negara-negara Eropa.
Sementara itu, AS masih menunggu hasil pembicaraan lebih lanjut dengan Denmark untuk menyelesaikan permasalahan ini secara diplomatik, meskipun opsi militer tetap disebutkan masih ada di meja perundingan.
Sumber: BBC News











