RBN || Jakarta
Di balik ramainya dunia live streaming, ada sosok yang menjadi penggerak suasana: sang host. Hal ini disampaikan oleh Host Live Streaming, Annisa Fitriani, S.I.Kom dalam tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 284, Sabtu (29/11).
Bagi Annisa, host live streaming produk kecantikan yang telah berpengalaman lebih dari satu tahun, profesi ini jauh dari anggapan “tinggal bicara di depan layar”. Ada ketegangan, ada teknik, dan ada mental yang perlu ditempa untuk menghadapi ribuan mata yang memperhatikan lewat layar gawai.
Annisa mengenang masa awal kariernya sebagai host, ketika semua perangkat tiba-tiba mati saat ia sedang live di luar jam kantor. Lighting padam, suara hilang, dan ia sempat bingung kepada siapa harus berbicara. Dalam situasi kacau itu, ia memutuskan tetap tenang.
“Kalau host panik, audiens ikut panik. Kalau host tidak segera cari solusi, audiens bisa kabur,” ujarnya.
Menurutnya, menjadi host bukan hanya soal bicara, melainkan harus kuat mental, kreatif, dan cepat dalam problem solving. Untuk menjaga ketenangan, ia sering menarik napas, minum air putih, lalu melakukan “face yoga” berupa senyum kecil agar emosinya tidak terbaca oleh penonton.
Annisa menekankan bahwa menit pertama live streaming adalah momen emas. Setiap host, menurutnya, perlu memiliki “magic word” yang membuat penonton betah. Salah satu contoh yang sering ia gunakan adalah kalimat yang memancing rasa penasaran:
“Kakak, aku kasih kamu waktu 5 detik dari sekarang. Kalau kamu tidak tertarik, boleh skip live-nya.”
Kalimat sederhana itu justru membuat audiens ingin tetap tinggal. “Tugas host live streaming adalah membuat audiens tertarik di menit awal, supaya mereka mau membeli produk,” kata Annisa.
Walau terlihat selalu tersenyum di layar, Annisa mengakui bahwa host live streaming juga manusia yang memiliki perasaan. Baginya, tantangan terberat adalah ketika suasana hati sedang buruk, namun ia harus tetap tampil ceria.
“Mimpi buruknya itu ketika hati sedang tidak baik tapi wajah harus tetap menyala,” ungkapnya. Ia meyakini bahwa kesedihan tidak boleh sampai terbaca audiens.
Saat awal menjadi host, Annisa pernah mengalami live yang sepi karena berlangsung di jam-jam orang tidur. Tidak ada komentar, tidak ada interaksi. Ia mengaku sempat sedih. Namun seiring waktu, ia membentuk mindset baru.
“Saya bayangkan sedang membangun ruang yang penuh orang,” katanya.
Tentang haters, ia memilih untuk tidak memperdulikan. “Kita tidak kenal mereka secara personal, jadi lebih baik fokus ke performa sendiri.”
Untuk membuat audiens tertarik membeli produk, Annisa menggunakan pendekatan storytelling. Ia menceritakan pengalaman pribadi, memperlihatkan produk yang sedang digunakan, dan membangun suasana seolah sedang berbicara dengan teman sendiri.
“Beauty itu attention opener, sedangkan skill itu attention keeper,” jelasnya. Dalam pandangannya, host live streaming perlu 40% penampilan dan 60% skill.
“Skill lebih berguna karena dengan ilmu kita bisa menjadi host yang kompeten,” tambahnya.
Annisa mengakui bahwa peran AI di industri live streaming sangat besar. AI dapat bekerja 24 jam, tidak lelah, dan tidak membuat kesalahan. Namun bagi Annisa, ada hal penting yang tidak bisa digantikan.
“AI tidak punya perasaan dan tidak bisa membangun emotional attachment. Audiens itu tidak hanya ingin belanja, tapi mereka suka ngobrol dengan host,” ujarnya.











