RBN || Jakarta
Indonesia dikenal dengan kekayaan alam dan budaya, namun potensi yang ada seringkali baru sebatas inspirasi yang belum sepenuhnya dimaksimalkan menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan dan mampu bersaing ditingkat global.
Peran pemerintah, khususnya Kementerian Ekonomi Kreatif, diperlukan untuk memastikan alam dan budaya tidak hanya sekedar inspirasi tetapi menjadi motor penggerak dalam menciptakan produk dan layanan ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Kementerian Ekonomi Kreatif, Assoc Prof. Dra. Dessy Ruhati, MM.Par, dalam tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 275 pada Sabtu (27/9).
“Kementerian Ekonomi Kreatif memiliki komitmen agar kekayaan alam dan budaya menjadi penggerak utama ekonomi kreatif,” ujar Dessy.
Dessy menjelaskan bahwa langkah konkret yang dilakukan pemerintah antara lain memperkuat regulasi dan perlindungan kekayaan intelektual, menyediakan program inkubasi dan akselerasi serta pelatihan bagi semua pegiat ekonomi kreatif, memberikan dukungan terhadap akses pembiayaan, pendanaan, dan investasi untuk memperluas promosi produk-produk kreatif ke pasar nasional dan internasional.
Pemerintah juga memiliki strategi untuk menjaga keaslian budaya ditengah tuntutan pasar global yaitu dengan melakukan adaptasi tanpa menghilangkan identitas budaya asli, melibatkan komunitas lokal, melindungi karya melalui hak kekayaan intelektual, melakukan kurasi agar produk tetap berkualitas, serta mengemas budaya dengan sentuhan modern agar relevan dengan perkembangan jaman.
Peran teknologi dan digital memungkinkan pengenalan tradisi dan budaya melalui pembuatan konten-konten media sosial yang menjangkau masyarakat luas.
Selain itu, generasi muda memiliki peran sebagai motor penggerak ekonomi kreatif, sehingga Kementerian Ekonomi Kreatif membuka ruang melalui creative hub, program pendampingan bisnis dan pelatihan digital marketing, kompetisi start up kreatif, serta memberikan fasilitas karya berbasis budaya dan alam.
“Generasi muda tidak hanya menjadi konsumen tren, tetapi pencipta tren baru yang berdaya saing global,” kata Dessy.
Pengelolaan ekonomi kreatif yang bersumber dari alam dan budaya berbentuk produk dan jasa yang memiliki nilai ekonomi. Ekonomi kreatif memiliki sasaran untuk meningkatkan nilai tambah, investasi dan industrialisasi, kemudian peningkatan tenaga kerja dan usaha baru yang kompetitif, serta peningkatan ekspor yang bernilai tinggi.
“Ekonomi kreatif menekankan pemanfaatan ide dan kreativitas untuk menghasilkan produk atau jasa yang unik dan bernilai jual,” ujar Dessy.
Dessy mengatakan bahwa ekonomi kreatif menghadapi tantangan untuk masuk ke pasar global, diantaranya standar dan sertifikasi produk, branding dan diferensiasi, keterbatasan akses pasar dan mitra di luar negeri, serta keterbatasan dana promosi dan riset pasar. Oleh karena itu, Kementerian Ekonomi Kreatif telah menyiapkan program-program yang membantu akses pasar global, yaitu partisipasi ekonomi kreatif dalam pameran internasional dan bisnis matching, memfasilitasi sertifikasi produk, dan program promosi lintas negara. Hal ini bermanfaat untuk meningkatkan daya saing talenta kreatif Indonesia dan memperluas jangkauan pasar global.
Pembangunan ekonomi kreatif membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak, antara lain pemerintah yang menyediakan regulasi dan fasilitas, kemudian dunia usaha yang memberikan investasi dan pasar, lalu akademisi mendukung dengan hasil-hasil riset, serta komunitas lokal berperan untuk menjaga kearifan lokal. Disamping memerlukan keterlibatan dari lembaga keuangan yang membantu akses pembiayaan bagi para pegiat ekonomi kreatif.
“Kolaborasi lintas pihak menjadi pondasi dalam peningkatan ekonomi kreatif,” tutup Dessy.











