BIONS 309: Dari Ruang “Hukuman” Menjadi Arsitek Masa Depan, Peran BK Kini Semakin Penting bagi Siswa

  • Share
Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 309

RBN || Jakarta

Pandangan bahwa ruang Bimbingan dan Konseling (BK) merupakan tempat bagi siswa yang bermasalah perlahan mulai berubah. Di tengah perkembangan zaman dan tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks, BK kini hadir sebagai ruang pendampingan yang membantu siswa mengenali potensi diri, membangun kepercayaan diri, hingga merancang masa depan mereka.

Guru Bimbingan dan Konseling di Sekolah Pelita Global Mandiri, Ms. Novita Rahmadani, S.Psi, pada tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 309, Sabtu (30/5), mengatakan peran BK saat ini tidak lagi sekadar menangani pelanggaran tata tertib sekolah. BK telah berkembang menjadi tempat yang aman bagi siswa untuk mendapatkan arahan, dukungan, dan pendampingan selama menjalani proses pertumbuhan di lingkungan sekolah.

Menurutnya, BK dapat diibaratkan sebagai “arsitek masa depan” karena membantu siswa memahami gambaran diri mereka, mulai dari potensi, kebiasaan, hingga cita-cita yang ingin diraih.

“Dengan perkembangan jaman, peran BK berubah menjadi pendamping dan pengarah siswa untuk mereka mempersiapkan masa depan, serta sebagai tempat mereka untuk bercerita,” ujar Ms. Novita.

Ia menegaskan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Yang dibutuhkan adalah ruang yang mendukung, kepercayaan diri, dan lingkungan yang memberikan dorongan positif.

Karena itu, sekolah dan para guru memiliki tanggung jawab untuk membantu siswa menyadari bahwa kemampuan yang mereka miliki sangat berharga dan mampu bersaing di tingkat global.

“Membangun rasa percaya diri siswa bisa dimulai dari hal sederhana, misalnya mengapresiasi proses mereka dan memberikan kesempatan mereka untuk berkembang,” ujarnya.

Di sisi lain, perkembangan teknologi dan media sosial menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan. Kemudahan akses informasi membuat banyak siswa rentan membandingkan diri dengan orang lain. Kondisi tersebut kerap memicu konflik batin, kelelahan emosional, rasa minder, hingga tekanan untuk selalu terlihat sempurna.

Selain itu, penggunaan gawai yang berlebihan juga menjadi salah satu faktor yang dapat mengurangi fokus belajar siswa.

Melihat kondisi tersebut, BK berupaya menjadi ruang yang nyaman bagi siswa untuk menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi tanpa rasa takut atau khawatir dihakimi.

“BK membantu siswa sebagai tempat aman untuk bercerita karena terkadang siswa hanya ingin didengarkan tanpa dihakimi,” kata Ms. Novita.

Menurutnya, menjaga keseimbangan antara prestasi akademik, kesehatan mental, dan penggunaan media sosial menjadi salah satu fokus utama layanan BK saat ini. Para siswa terus diingatkan bahwa keberhasilan merupakan hasil dari sebuah proses yang panjang dan tidak selalu berjalan mulus.

Mereka juga diberikan pemahaman bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses belajar menuju tujuan yang lebih besar.

Selain peran sekolah, dukungan keluarga juga dinilai sangat penting dalam membangun semangat dan ketahanan mental anak. Orang tua menjadi pihak yang paling memahami kondisi anak ketika berada di rumah, sehingga memiliki peran besar dalam memberikan penguatan saat mereka menghadapi masalah.

Ms. Novita menambahkan bahwa pengalaman hidup, termasuk kegagalan, seharusnya dijadikan sarana pembelajaran untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

“Belajar dari pengalaman karena pengalaman adalah kunci mereka untuk belajar tidak overthinking atau minder, kegagalan sebagai bentuk evaluasi dan pembelajaran agar lebih baik lagi,” ujar Ms. Novita.

Di tengah derasnya arus informasi dan tekanan sosial yang dihadapi generasi muda saat ini, keberadaan BK menjadi semakin relevan. Tidak hanya sebagai tempat konsultasi, tetapi juga sebagai sahabat, pendamping, dan penunjuk arah bagi siswa dalam mempersiapkan masa depan mereka.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *