RBN || Iran
Gelombang unjuk rasa besar yang mengguncang Iran sejak 28 Desember 2025 terus memakan korban jiwa. Kelompok hak asasi manusia Human Rights Activists News Agency (HRANA) melaporkan sedikitnya 2.571 orang tewas hingga Rabu (14/1/2026), menjadikan krisis ini sebagai salah satu episode paling berdarah sejak Revolusi Iran 1979.
Dalam keterangannya kepada CNN, juru bicara HRANA mengonfirmasi bahwa 12 korban tewas merupakan anak-anak di bawah usia 18 tahun. Selain itu, organisasi tersebut mencatat 18.137 orang ditangkap dalam rangkaian protes yang meluas ke seluruh 31 provinsi di Iran.
HRANA menegaskan bahwa angka tersebut berasal dari kasus-kasus yang berhasil mereka identifikasi secara langsung. Namun, organisasi itu mengingatkan bahwa pemadaman internet dan pembatasan komunikasi yang diberlakukan pemerintah Iran sangat menghambat verifikasi independen, sehingga jumlah korban sebenarnya dikhawatirkan jauh lebih besar.
Laporan tersebut diperkuat oleh verifikasi CBS News terhadap sebuah video yang memperlihatkan tumpukan jenazah di salah satu kamar jenazah di pinggiran Teheran. Dalam rekaman tersebut tampak sedikitnya 366 jenazah, dengan dugaan jumlah mencapai lebih dari 400 orang. Banyak korban menunjukkan luka tembak, bekas peluru senapan angin, serta luka berat lainnya.
Video itu diunggah oleh aktivis Iran, Vahid Online, yang menyebut rekaman tersebut dikirim oleh seseorang yang menempuh perjalanan hampir 1.000 kilometer demi mengunggahnya di tengah terputusnya akses komunikasi.
Direktur Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia, Mahmood Amiry-Moghaddam, menyatakan bahwa tingkat kekerasan aparat kemungkinan jauh lebih buruk dari yang selama ini terungkap. Ia menilai semua “garis merah” hukum internasional telah dilanggar dan mendesak komunitas global untuk segera bertindak. “Pemutusan internet di Iran ibarat mengurung rakyat dalam sel isolasi,” ujarnya.
Hingga kini, pemerintah Iran belum merilis data resmi mengenai jumlah korban. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan pemerintah tengah berupaya mengatasi persoalan ekonomi, sembari menuding kekerasan dipicu oleh pihak-pihak yang terhubung dengan kekuatan asing.
Sementara itu, Reuters mengutip pejabat Iran yang memperkirakan sekitar 2.000 orang tewas, dengan narasi serupa bahwa protes dipengaruhi aktor eksternal.
Di pengasingan, Reza Pahlavi, putra mahkota Iran yang digulingkan, menyerukan dukungan nyata dari dunia internasional demi mencegah jatuhnya lebih banyak korban jiwa.
Sumber: Kompas.com











