RBN || Teheran
Konflik antara Israel dan Iran kembali memanas setelah kedua negara saling melancarkan serangan baru pada Jumat. Ketegangan meningkat sehari setelah Iran menyerang kilang minyak Israel, serta peringatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar Israel tidak menyerang ladang gas lepas pantai Iran yang berbagi wilayah dengan Qatar.
Militer Israel menyatakan telah menyerang Teheran dengan target “infrastruktur rezim teror Iran”. Namun, pernyataan tersebut tidak merinci sasaran spesifik. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel, yang memicu sirene peringatan serangan udara di Tel Aviv. Ledakan dari sistem pertahanan udara terdengar di berbagai penjuru kota.
Perang yang dimulai sejak 28 Februari akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon. Konflik ini juga meluas ke berbagai wilayah Timur Tengah dan berdampak signifikan terhadap perekonomian global.
Ketegangan turut dirasakan di negara-negara Teluk. Uni Emirat Arab melaporkan adanya ancaman rudal pada Jumat pagi, bertepatan dengan perayaan Idulfitri. Kuwait juga melaporkan serangan drone yang mengenai salah satu kilang minyaknya.
Dalam beberapa hari terakhir, Iran menargetkan infrastruktur energi di kawasan, memicu gejolak di pasar global. Harga energi sempat melonjak setelah Iran menyerang Ras Laffan Industrial City di Qatar, fasilitas yang memproses sekitar seperlima pasokan gas alam cair dunia. Kerusakan yang ditimbulkan diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki.
Selain itu, pelabuhan utama Arab Saudi di Laut Merah juga menjadi sasaran serangan, memperburuk kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Meski sempat melonjak, harga minyak pada Jumat mulai turun setelah sejumlah negara Barat dan Jepang menyatakan kesiapan membantu mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz serta rencana peningkatan produksi minyak oleh Amerika Serikat.
Presiden Trump menegaskan telah meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak kembali menyerang fasilitas energi Iran.
“Saya bilang padanya, ‘Jangan lakukan itu’, dan dia tidak mau melakukannya.” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Namun, Netanyahu menyatakan bahwa Israel bertindak sendiri dalam serangan ke ladang gas South Pars milik Iran. Ia juga menyebut Iran telah “dilemahkan” dan tidak lagi memiliki kemampuan signifikan untuk memperkaya uranium atau memproduksi rudal balistik, meski tidak merinci lebih lanjut.
Di tengah konflik yang terus berlangsung, negara-negara Barat seperti Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang mengeluarkan pernyataan bersama yang menyatakan kesiapan mereka untuk menjaga keamanan jalur pelayaran internasional.
Mereka juga berkomitmen mengambil langkah lain untuk menstabilkan pasar energi, termasuk bekerja sama dengan negara produsen untuk meningkatkan pasokan.
Namun, sejumlah pemimpin Eropa menegaskan bahwa keterlibatan langsung dalam konflik bukanlah pilihan. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa upaya terbaik saat ini adalah mendorong deeskalasi.
“Saya belum mendengar siapa pun di sini yang menyatakan kesediaan untuk terlibat dalam konflik ini,” kata Macron usai pertemuan Uni Eropa di Brussels.
Sementara itu, militer Iran memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur energinya akan dibalas dengan serangan yang lebih besar.
“Jika serangan terjadi lagi, serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi Anda dan sekutu Anda tidak akan berhenti sampai infrastruktur tersebut hancur total,” ujar juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari.
Di sisi lain, Iran menegaskan produksi rudalnya tetap berjalan normal meski dalam kondisi perang.
Konflik ini juga berdampak besar pada sektor energi global. CEO QatarEnergy mengungkapkan bahwa serangan Iran telah mengurangi kapasitas ekspor gas alam cair Qatar hingga seperenam, dengan kerugian mencapai 20 miliar dolar AS per tahun. Perbaikan fasilitas tersebut diperkirakan membutuhkan waktu antara tiga hingga lima tahun.
Dengan eskalasi yang terus meningkat dan belum terlihat tanda-tanda mereda, konflik Israel-Iran kini menjadi salah satu ancaman terbesar bagi stabilitas kawasan dan ekonomi global.
Sumber: Reuters











