RBN || Vatikan
Ketegangan antara pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump dan Vatikan terkait perang di Iran kembali memanas. Situasi ini mencuat setelah Paus Leo menyampaikan pesan perdamaian dan pemulihan, menyusul kritik keras yang dilontarkan pejabat Gedung Putih.
Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya memicu kontroversi dengan mempertanyakan pernyataan Paus terkait perang dan teologi. Dalam sebuah acara di Universitas Georgia, Vance bahkan menyiratkan bahwa Paus tidak memahami konsep perang.
“Bagaimana Anda bisa mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah berada di pihak mereka yang mengangkat pedang?” ujar Vance di hadapan peserta acara, yang juga diwarnai interupsi dari demonstran anti-perang.
“Apakah Tuhan berada di pihak orang Amerika yang membebaskan kamp Holocaust? Sangat penting bagi paus untuk berhati-hati ketika berbicara tentang teologi… harus dipastikan berlandaskan kebenaran,” lanjutnya.
Sehari sebelumnya, Vance yang merupakan seorang mualaf Katolik juga menyarankan Paus Leo XIV untuk fokus pada isu moral, setelah Paus mengkritik perang AS-Israel di Iran melalui media sosial.
Dalam pernyataannya, Paus Leo menegaskan sikap tegas terhadap konflik bersenjata.
“Tuhan tidak memberkati konflik apa pun. Siapa pun yang menjadi murid Kristus, Sang Raja Damai, tidak pernah berada di pihak mereka yang dahulu mengangkat pedang dan kini menjatuhkan bom,” tulis Paus.
Menanggapi situasi tersebut, Paus Leo berbicara kepada wartawan dalam perjalanan menuju Kamerun untuk kunjungan selama 11 hari di Afrika. Meski tidak secara langsung menanggapi pernyataan Vance maupun kritik Presiden Trump yang menyebutnya “lemah” dan “buruk”, pesan Paus menunjukkan keprihatinannya terhadap konflik yang terus berlangsung.
Ia mengaitkan pesannya dengan kunjungan ke Annaba, kota kuno Hippo yang pernah menjadi tempat tinggal Santo Agustinus, salah satu tokoh besar dalam teologi Kristen.
“Tulisan-tulisannya, ajarannya, spiritualitasnya, serta ajakan untuk mencari Tuhan dan kebenaran adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan saat ini, pesan yang sangat relevan bagi kita semua,” ujar Paus Leo.
Ia menekankan pentingnya membangun persatuan dan saling menghormati di tengah perbedaan.
“Dengan mengunjungi Hippo, saya ingin menawarkan visi kepada gereja dan dunia tentang pentingnya mencari persatuan di antara semua orang dan menghormati setiap individu meskipun berbeda,” tambahnya.
Paus juga menegaskan bahwa dialog dan rekonsiliasi menjadi kunci utama dalam menyelesaikan konflik, bukan kekerasan atau kebencian.
“Walaupun kita memiliki keyakinan, cara beribadah, dan cara hidup yang berbeda, kita tetap bisa hidup bersama dalam damai,” ujarnya.
Sikap Paus ini dinilai kontras dengan pendekatan Presiden Trump yang beberapa kali melontarkan kritik keras, termasuk melalui unggahan di media sosial. Bahkan, Trump sempat menuai kontroversi setelah membagikan gambar berbasis kecerdasan buatan yang menyerupai dirinya sebagai figur penyembuh seperti Yesus, yang kemudian dihapus setelah mendapat kritik.
Ketegangan ini menjadi salah satu episode terbaru dalam hubungan yang tidak selalu harmonis antara Trump dan Vatikan. Sebelumnya, Trump juga pernah menuai sorotan saat menyatakan keinginannya menjadi paus dan membagikan gambar dirinya mengenakan pakaian kepausan.
Meski demikian, di tengah polemik tersebut, Paus Leo terus menekankan pentingnya perdamaian, dialog, dan persatuan sebagai jalan keluar dari konflik global yang berkepanjangan.
Sumber: The Guardian











