Perundingan AS-Iran di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam

  • Share
Foto: via REUTERS/WANA

RBN || Islamabad

Upaya perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4/2026), berakhir tanpa kesepakatan setelah berlangsung selama 21 jam. Kegagalan ini dinilai dapat mengancam keberlangsungan gencatan senjata dua minggu yang sebelumnya telah disepakati.

Wakil Presiden AS, JD Vance, menyampaikan bahwa tim negosiasi AS telah meninggalkan Pakistan tanpa hasil konkret dari perundingan tersebut.

“Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan, dan saya pikir ini lebih menjadi kabar buruk bagi Iran daripada bagi Amerika Serikat,” ujar Vance kepada wartawan usai perundingan. “Kami kembali ke Amerika Serikat tanpa kesepakatan. Kami sudah sangat jelas mengenai batasan-batasan kami.”

Vance menjelaskan bahwa kegagalan tersebut dipicu oleh ketidaksepakatan mendasar, termasuk penolakan Iran terhadap syarat utama AS, yakni komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

“Kami perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mencari senjata nuklir, dan tidak akan mencari sarana yang memungkinkan mereka dengan cepat mencapainya. Itu adalah tujuan utama Presiden Amerika Serikat, dan itulah yang kami upayakan melalui negosiasi ini,” tegasnya.

Sementara itu, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, menyebut tuntutan AS yang dianggap berlebihan menjadi penghambat tercapainya kesepakatan. Meski demikian, pemerintah Iran sebelumnya menyatakan bahwa negosiasi akan tetap berlanjut melalui pertukaran dokumen teknis antar kedua pihak.

Pertemuan di Islamabad ini merupakan pertemuan langsung pertama antara AS dan Iran dalam lebih dari satu dekade, sekaligus menjadi dialog tingkat tinggi pertama sejak Revolusi Islam 1979.

Dalam pernyataannya, Vance tidak menyinggung soal pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan energi global. Selat tersebut masih diblokade Iran sejak konflik dimulai, yang berdampak pada lonjakan harga minyak dunia dan menelan ribuan korban jiwa.

Delegasi AS dalam perundingan ini juga melibatkan utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Presiden Donald Trump. Vance mengaku berkomunikasi dengan Trump sebanyak beberapa kali selama proses negosiasi berlangsung.

Dari pihak Iran, delegasi dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi. Delegasi Iran datang dengan mengenakan pakaian hitam sebagai bentuk duka atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta korban lainnya dalam konflik.

Sumber dari Pakistan mengungkapkan bahwa suasana perundingan berlangsung dinamis dengan ketegangan yang naik turun.

“Terjadi perubahan suasana dari kedua pihak dan tensi naik turun selama pertemuan,” ungkap sumber tersebut.

Selama berlangsungnya perundingan, Islamabad diberlakukan pengamanan ketat dengan ribuan personel militer dan paramiliter dikerahkan di berbagai titik kota.

Peran Pakistan sebagai mediator dinilai sebagai perubahan signifikan, mengingat negara tersebut sebelumnya sempat terisolasi secara diplomatik.

Di tengah proses negosiasi, militer AS menyatakan tengah mempersiapkan langkah untuk membuka kembali Selat Hormuz. Dua kapal perang AS disebut telah melintas di jalur tersebut, meski klaim itu dibantah oleh media pemerintah Iran.

Sebelum perundingan dimulai, sumber Iran menyebut AS telah menyetujui pencairan aset Iran yang dibekukan di Qatar dan bank luar negeri lainnya. Namun, pejabat AS membantah adanya kesepakatan tersebut.

Selain pencairan aset, Iran juga menuntut pengendalian Selat Hormuz, pembayaran kompensasi perang, serta gencatan senjata menyeluruh di kawasan, termasuk di Lebanon.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa prioritas utama negaranya adalah memastikan jalur pelayaran global tetap terbuka dan membatasi program pengayaan nuklir Iran agar tidak mampu memproduksi senjata nuklir.

Sementara itu, sekutu AS, Israel, tetap melanjutkan serangan terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon dan menegaskan bahwa konflik tersebut tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran.

Kegagalan perundingan ini menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian masih penuh tantangan, dengan perbedaan kepentingan yang tajam antara kedua negara.

Sumber: Reuters

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *