Bisnis Chip Samsung Melejit, Pendapatan Lampaui Raksasa Teknologi Global

  • Share
Ilustrasi. (Foto: Reuters)

RBN || Jakarta

Samsung Electronics mencatat lonjakan kinerja signifikan pada bisnis chip memori sepanjang kuartal I-2026. Pendapatan dari divisi ini bahkan disebut melampaui capaian sejumlah perusahaan teknologi global seperti Amazon, Meta Platforms, hingga Microsoft.

Berdasarkan laporan yang mengutip data Counterpoint Research, Samsung membukukan pendapatan dari bisnis memori sebesar 50,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp800 triliun pada periode Januari hingga Maret 2026. Nilai tersebut terdiri dari penjualan DRAM sebesar 37 miliar dollar AS dan NAND sebesar 13,4 miliar dollar AS, yang keduanya mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Kinerja ini menunjukkan lonjakan tajam, bahkan meningkat sekitar 167 persen dibanding puncak sebelumnya pada 2018. Peningkatan tersebut didorong oleh tingginya permintaan chip memori untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI), terutama untuk pusat data dan komputasi berbasis cloud.

Tidak hanya dari sisi pendapatan, profitabilitas Samsung juga mencuri perhatian. Divisi semikonduktor perusahaan diperkirakan menjadi penyumbang utama laba operasional yang mencapai sekitar 38,9 miliar dollar AS atau setara Rp620 triliun dalam satu kuartal.

Angka tersebut melampaui laba operasional sejumlah raksasa teknologi global pada periode sebelumnya. Amazon tercatat membukukan laba sekitar 25 miliar dollar AS, Meta sebesar 24,7 miliar dollar AS, dan Microsoft sekitar 20,6 miliar dollar AS.

Capaian ini menegaskan dominasi Samsung dalam industri chip memori global, terutama di tengah melonjaknya kebutuhan teknologi berbasis AI. Permintaan memori berkecepatan tinggi seperti DRAM dan High Bandwidth Memory (HBM) meningkat pesat seiring berkembangnya model bahasa besar dan layanan komputasi awan.

Kondisi tersebut membuat produsen chip memori seperti Samsung berada di posisi paling diuntungkan. Bahkan, permintaan dari perusahaan teknologi besar dilaporkan jauh melampaui kapasitas produksi, yang turut mendorong kenaikan harga serta pendapatan.

Fenomena ini juga menandai industri memori memasuki fase baru yang dikenal sebagai supercycle, di mana permintaan tinggi dan pasokan terbatas mendorong tren kenaikan harga dan pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.

Sebagai produsen memori terbesar di dunia, Samsung diperkirakan akan terus menjadi pemain utama dalam gelombang perkembangan kecerdasan buatan global, seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital di berbagai sektor.

Sumber: Kompas

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *