Persaingan AI AS-China Kini Ditentukan Talenta, Bukan Sekadar Teknologi

  • Share
Ilustrasi. (Foto: CNA)

RBN || Beijing

Persaingan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) antara Amerika Serikat dan China kini memasuki babak baru. Jika sebelumnya perlombaan didominasi perebutan cip canggih, data, dan daya komputasi, kini perhatian beralih pada perebutan talenta terbaik yang akan menentukan arah perkembangan teknologi AI di masa depan.

Persaingan tersebut membuat peneliti, insinyur, dan pengusaha teknologi menjadi aset strategis bagi kedua negara. Pemerintah Amerika Serikat dan China sama-sama memperketat pengawasan terhadap teknologi, investasi, hingga kolaborasi riset, sementara perusahaan teknologi berlomba merekrut ilmuwan dan insinyur AI terbaik.

Pendiri perusahaan kacamata pintar Even Realities, Will Wang, menjadi salah satu contoh perubahan tersebut. Setelah bekerja di Apple di Silicon Valley, ia kembali ke China dan mendirikan perusahaan berbasis di Shenzhen pada 2023. Menurutnya, Silicon Valley kini lebih berfokus pada perangkat lunak dan AI, sedangkan China menawarkan ekosistem manufaktur serta rantai pasok yang lebih kuat untuk mengembangkan perangkat keras berbasis AI.

Para pengamat menilai persaingan AI saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan menciptakan model AI terbaik, tetapi juga oleh lokasi para peneliti dan insinyur memilih untuk tinggal, bekerja, dan berinovasi.

Asisten peneliti S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Singapura, Li Yaqi, menyebut hubungan talenta antara AS dan China selama ini lebih tepat disebut sebagai sirkulasi talenta daripada brain drain. Menurutnya, mobilitas para peneliti telah berkontribusi membangun ekosistem AI di kedua negara melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan jaringan riset.

Meski demikian, dinamika geopolitik membuat arus perpindahan talenta semakin kompleks. Berbagai kebijakan seperti pembatasan visa, kontrol ekspor teknologi, pengawasan investasi, hingga regulasi keamanan nasional mulai memengaruhi keputusan para peneliti dan perusahaan dalam menentukan lokasi pengembangan teknologi.

Para ahli menyebut Amerika Serikat masih unggul dalam riset AI mutakhir, akses terhadap sumber daya komputasi, dan pendanaan. Sementara itu, China semakin menarik sebagai pusat pengembangan perangkat keras, komersialisasi produk, serta penerapan AI dalam skala industri berkat ekosistem teknologi dan pasar domestik yang besar.

Di sisi lain, pembatasan mobilitas talenta dinilai berpotensi menghambat pertukaran pengetahuan yang selama ini menjadi salah satu kekuatan inovasi global. Menurut Li, yang berisiko hilang bukan hanya perpindahan tenaga ahli, tetapi juga pengetahuan informal, budaya riset, serta pengalaman pengembangan produk yang tidak dapat ditransfer melalui publikasi ilmiah.

Para pelaku industri menilai persaingan AI tidak seharusnya menutup peluang kolaborasi. Mereka menekankan bahwa pengembangan teknologi tetap membutuhkan kerja sama lintas negara untuk menciptakan inovasi yang mampu menjawab berbagai persoalan nyata.

Dengan kondisi tersebut, perlombaan AI antara Amerika Serikat dan China kini semakin bergeser. Bukan lagi semata soal siapa yang memiliki teknologi tercanggih, melainkan siapa yang mampu menarik, mempertahankan, dan mengembangkan talenta terbaik untuk membangun masa depan kecerdasan buatan.

Sumber: CNA

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *