RBN || Sydney
Uji coba pertama di dunia yang dilakukan di Australia menemukan bahwa tes tusuk jari sederhana mampu mendeteksi DNA hepatitis B dengan tingkat akurasi setara pemeriksaan laboratorium standar. Temuan ini membuka peluang besar bagi perluasan layanan skrining hepatitis B, terutama di wilayah terpencil dan daerah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Microbiology tersebut menunjukkan bahwa metode point-of-care testing (POCT) dapat memberikan hasil hanya dalam waktu sekitar satu jam dan bisa dilakukan langsung di klinik tanpa perlu mengirim sampel ke laboratorium pusat.
Pemimpin studi dari Institut Kirby, Universitas New South Wales, Profesor Gail Matthews, mengatakan tes berbasis tusuk jari ini memiliki tingkat ketepatan yang sangat tinggi.
“Hasil uji coba kami menunjukkan bahwa pengujian POCT dengan metode fingerstick sangat akurat, hampir setara dengan tes tradisional berbasis laboratorium,” ujar Matthews dalam keterangan resmi, Kamis (5/2/2026).
Menurutnya, inovasi ini berpotensi memperluas akses pemeriksaan dan pengobatan hepatitis B secara global, terutama bagi masyarakat yang selama ini sulit menjangkau layanan kesehatan.
Hepatitis B merupakan infeksi virus yang menyerang hati dan masih menjadi masalah kesehatan dunia. Diperkirakan sekitar 254 juta orang hidup dengan hepatitis B kronis, dengan lebih dari satu juta kematian setiap tahun. Padahal, penyakit ini sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi.
Namun, data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa hanya sekitar 8 persen penderita hepatitis B kronis yang saat ini mendapatkan pengobatan.
Para peneliti menilai, tes cepat ini dapat menjadi alat penting untuk mendukung target global WHO dalam mengeliminasi hepatitis B sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada 2030. Dengan hasil yang cepat dan prosedur yang sederhana, pasien bisa segera mendapatkan diagnosis dan dirujuk untuk terapi tanpa harus menunggu lama.
“Teknologi ini memberi harapan baru, khususnya bagi komunitas yang selama ini tertinggal dalam akses pemeriksaan kesehatan,” ujar Matthews.
Para ahli berharap, jika tes ini diadopsi secara luas, deteksi dini hepatitis B dapat meningkat signifikan dan mencegah lebih banyak komplikasi serius seperti sirosis dan kanker hati.
Sumber: Antara News











