Kemenkes Mulai Program Vaksin MR untuk Tenaga Kesehatan, Sasar Wilayah Kasus Tertinggi

  • Share
Ilustrasi campak. (Foto: Freepik)

RBN || Jakarta

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) resmi memulai program pemberian vaksin campak atau Measles Rubella (MR) yang ditujukan khusus bagi tenaga medis, tenaga kesehatan, serta dokter internsip di seluruh Indonesia. Program ini mulai dilaksanakan secara serentak pada Jumat (10/4/2026) di sejumlah rumah sakit di wilayah dengan tingkat kasus campak tertinggi.

Pelaksana Tugas (Plt.) Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, dr. Andi Saguni, MA, menjelaskan bahwa program ini merupakan langkah strategis untuk melindungi tenaga kesehatan yang memiliki risiko tinggi terhadap paparan virus.

“Pada hari ini, kami akan melaksanakan kick-off imunisasi campak bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit Kementerian Kesehatan dan RSUD di 14 provinsi dengan kasus campak terbanyak, serta dokter internship di seluruh Indonesia,” ujarnya dalam konferensi pers daring.

Ia menegaskan bahwa tenaga kesehatan merupakan kelompok rentan yang perlu mendapat perlindungan ekstra melalui imunisasi.

“Kementerian Kesehatan senantiasa berusaha melindungi tenaga medis dan tenaga kesehatan karena merupakan kelompok yang sangat berisiko terhadap penularan campak, melalui pemberian imunisasi campak atau MR,” lanjut dr. Andi.

Meski secara nasional tren kasus campak menunjukkan penurunan signifikan sejak awal tahun, Kemenkes tetap menilai perlunya kewaspadaan, terutama di daerah dengan potensi penularan tinggi.

“Jika kita lihat pada minggu pertama, jumlah kasus campak 2.220 dan kita bandingkan pada minggu ke-13 itu sudah tinggal 195 kasus campak. Jadi, kita bisa lihat di sini bahwa begitu penurunan dari minggu per minggu,” jelasnya.

Namun demikian, pengawasan tetap diperketat di sejumlah wilayah aglomerasi yang masih rawan, salah satunya di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

“Untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat, ini aglomerasi yang kita harus waspadai, kita awasi, dan antisipasi, yakni ada di Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Kabupaten Dompu,” ungkap dr. Andi.

Dalam program ini, Kemenkes menargetkan pemberian vaksin MR kepada 39.212 tenaga medis dan 223.150 tenaga kesehatan di 14 provinsi, serta 28.321 dokter internsip di seluruh Indonesia.

“Imunisasi MR ini akan diberikan pada 39.212 tenaga medis dan 223.150 tenaga kesehatan di 14 provinsi dengan kasus campak tertinggi, serta 28.321 dokter umum dan dokter gigi intensif di seluruh Indonesia,” katanya.

Pelaksanaan vaksinasi dilakukan secara bertahap. Hingga hari pertama pencanangan, ratusan tenaga kesehatan telah menerima vaksin.

“Jadi mulai hari ini kita melakukan pencanangan, data sampai dengan saat ini sudah sebanyak 565 tenaga kesehatan ya, termasuk tenaga medis di dalamnya, yang sudah dilakukan imunisasi campak. Dan itu akan terus dilakukan, sehingga kami pastikan bahwa seluruh tenaga kesehatan termasuk tenaga medis, akan mendapatkan imunisasi campak,” jelasnya.

Pemberian vaksin dilakukan berdasarkan riwayat imunisasi masing-masing tenaga kesehatan. Mereka yang telah menerima dua dosis tidak perlu divaksin ulang, sementara yang baru satu dosis akan mendapat tambahan satu dosis.

“Apabila tenaga kesehatan atau tenaga medis memiliki riwayat imunisasi campak dua dosis, maka tidak perlu diberikan. Tetapi apabila memiliki riwayat imunisasi cuma satu dosis, akan diberikan satu dosis tambahan,” terang dr. Andi.

Sementara bagi tenaga kesehatan yang belum pernah menerima vaksin, akan diberikan dua dosis dengan jarak minimal 28 hari.

“Kemudian apabila belum memiliki riwayat imunisasi sama sekali, akan diberikan dua dosis dengan interval minimal 28 hari dan dosisnya adalah 0,5 ml di subkutan,” tambahnya.

Sebagai tahap awal, program ini dilaksanakan di enam rumah sakit perwakilan, yakni RS Adam Malik Medan, RS M Hoesin Palembang, RS Pusat Otak Nasional (PON) Jakarta, RSPI Sulianti Saroso Jakarta, RSUD Kota Bandung, serta RSUP Makassar CPI.

Distribusi vaksin MR dari dinas kesehatan daerah dilaporkan berjalan lancar, sehingga pelaksanaan imunisasi dapat dilakukan tepat waktu sesuai jadwal.

Pimpinan rumah sakit menilai program ini sangat penting untuk memberikan perlindungan bagi tenaga kesehatan yang bekerja di area berisiko tinggi, seperti Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan ruang perawatan intensif.

Selain melindungi tenaga kesehatan, program ini juga diharapkan mampu menekan potensi penyebaran virus di lingkungan rumah sakit, sekaligus menjaga keselamatan pasien, tenaga medis lain, serta keluarga mereka dari ancaman campak.

Melalui program ini, Kemenkes menegaskan komitmennya dalam memperkuat perlindungan kesehatan tenaga medis sekaligus mengendalikan penyebaran penyakit menular di Indonesia.

Sumber: Kompas

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *