RBN || Jakarta
Saat seseorang terdiagnosis mengidap campak, seringkali pertanyaan pertama yang muncul adalah jenis obat apa yang harus segera dikonsumsi untuk mengatasi virus tersebut. Banyak pasien berharap ada obat yang bisa mempercepat penyembuhan agar bisa segera kembali beraktivitas seperti biasa.
Namun, menurut Dr. dr. Aditya Susilo, Sp.PD, K-P.T.I, FINASIM, penanganan campak tidak berfokus pada obat yang dapat mematikan virus secara langsung, melainkan pada cara mendukung tubuh agar bisa melawan infeksi tersebut dengan kemampuannya sendiri.
“Tidak ada pengobatan antivirus yang spesifik untuk campak. Sempat ada yang bilang ribavirin, tapi itu juga tidak terbukti,” ujar dr. Aditya dalam konferensi pers “Campak pada Dewasa: Tanda Bahaya dan Penanganan yang Tepat serta Peran Vaksinasi” yang digelar oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) di Jakarta pada Selasa (31/3/2026).
Menurut dr. Aditya, meskipun tidak ada obat antivirus, virus penyebab campak bersifat self-limiting, yang artinya infeksi ini akan mereda dan sembuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu, selama tubuh memiliki sistem pertahanan yang baik.
“Kita beruntung kebanyakan respons virus akan kalah dan hancur oleh daya tahan tubuh. Jadi, walaupun tidak ada antivirus, pasien juga bisa sembuh dengan respons antibodi yang baik,” jelas dr. Aditya.
Untuk mendukung sistem kekebalan tubuh, dr. Aditya menyebutkan bahwa pengobatan medis difokuskan pada meredakan gejala-gejala yang mengganggu, sehingga pasien bisa merasa lebih nyaman dan beristirahat dengan baik selama masa pemulihan. Terapi yang diberikan biasanya berupa obat penurun panas atau pereda nyeri.
Selain itu, menjaga hidrasi tubuh juga sangat penting. Pasalnya, demam tinggi pada penderita campak seringkali mengakibatkan hilangnya banyak cairan tubuh.
“Pastikan asupan cairannya cukup, terutama kalau campaknya sampai menyebabkan diare atau muntah. Itu bisa menyebabkan kekurangan cairan. Oleh karena itu, asupan gizi yang bernutrisi juga sangat penting untuk mendukung daya tahan tubuh,” ungkapnya.
Selain obat pereda gejala, dr. Aditya juga menekankan pentingnya pemberian vitamin A dosis tinggi. Vitamin ini sangat penting dalam penanganan campak, baik pada pasien anak maupun dewasa.
“Hampir semua panduan menyebutkan bahwa vitamin A dengan dosis tinggi sangat penting diberikan pada infeksi campak. Karena campak mengganggu mukosa tubuh, dan vitamin A membantu mengatasi kondisi itu,” jelas dr. Aditya.
Infeksi campak memang sangat merusak lapisan mukosa yang melindungi saluran pernapasan, pencernaan, dan mata. Vitamin A membantu memperbaiki kerusakan jaringan dan mencegah infeksi sekunder yang dapat memperburuk kondisi.
Dengan pemahaman ini, penting bagi pasien campak untuk mengikuti anjuran medis dengan menjaga kesehatan tubuh dan asupan gizi yang baik selama proses pemulihan.
Sumber: Kompas











