RBN || Internasional
Ponsel pintar masih menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian remaja, termasuk ketika mereka berada di sekolah. Namun, alih-alih digunakan untuk mendukung pembelajaran, penggunaan ponsel selama jam sekolah justru didominasi aktivitas hiburan.
Temuan tersebut terungkap dalam studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal JAMA. Penelitian mencatat, remaja menghabiskan rata-rata 70 menit menggunakan ponsel selama jam sekolah.
Dari durasi itu, sebagian besar waktu tersedot untuk media sosial. Aplikasi seperti TikTok, Snapchat, dan Instagram tercatat digunakan sekitar 30 menit per hari selama jam sekolah.
Sebaliknya, penggunaan ponsel untuk kegiatan produktif dan pendidikan sangat minim. Studi tersebut menunjukkan remaja hanya menghabiskan sekitar 1,5 menit per hari untuk aplikasi penunjang belajar seperti Google Docs, Khan Academy, dan Chegg.
Tak hanya media sosial, remaja juga memanfaatkan ponsel untuk bermain game dan menonton konten hiburan. Sejumlah aplikasi game seperti Roblox dan Pokemon Go masuk daftar yang kerap diakses, bersama layanan streaming seperti Netflix dan YouTube.
Penelitian ini melibatkan sekitar 640 remaja berusia 13–18 tahun yang tergabung dalam proyek riset jangka panjang berskala besar bernama Adolescent Brain Cognitive Development Study.
Yang menarik, pengambilan data dilakukan bukan melalui survei atau kuesioner seperti kebanyakan penelitian lainnya. Para peneliti menggunakan aplikasi khusus yang dipasang di ponsel partisipan untuk memantau aktivitas digital secara pasif selama jam sekolah, mulai dari penggunaan media sosial, bermain game, menjelajah internet, hingga menonton video.
Dengan metode ini, peneliti menilai hasil yang diperoleh lebih akurat karena tidak bergantung pada ingatan atau pengakuan peserta.
Penulis utama studi, Jason Nagata, menilai penggunaan ponsel lebih dari satu jam selama jam sekolah secara tidak langsung menjadi pesaing perhatian siswa terhadap pelajaran.
“Ponsel sebenarnya bisa mendukung pembelajaran, tetapi itulah bukan cara utama penggunaannya selama hari sekolah,” kata Nagata.
Ia menambahkan, sekalipun penggunaan ponsel terjadi saat jam istirahat atau makan siang, kebiasaan itu tetap berpotensi mengurangi interaksi sosial tatap muka, aktivitas fisik, serta waktu istirahat mental siswa.
“Penggunaan ponsel yang berlebihan dapat menggeser manfaat-manfaat tersebut dan mengurangi kesempatan untuk membangun koneksi di dunia nyata,” ujarnya.
Studi ini juga menemukan adanya perbedaan pola penggunaan ponsel berdasarkan faktor tertentu. Remaja dengan kecenderungan penggunaan media sosial bermasalah tercatat memakai ponsel beberapa menit lebih lama dibandingkan siswa lain.
Dari sisi sosial, remaja berkulit hitam menghabiskan sekitar 12–20 menit lebih lama menggunakan ponsel dibandingkan remaja berkulit putih. Sementara berdasarkan kondisi ekonomi, siswa dari keluarga berpenghasilan rendah cenderung menggunakan ponsel lebih sering dibandingkan siswa dari keluarga berpenghasilan tinggi.
Peneliti tidak menelusuri lebih jauh penyebab ketimpangan tersebut, tetapi menduga faktor lingkungan sekolah ikut memengaruhi, termasuk ukuran kelas dan keterbatasan sumber daya.
Perlu dicatat, data penelitian ini dikumpulkan pada periode 2022–2024, sehingga belum sepenuhnya menggambarkan kebijakan sekolah bebas ponsel yang belakangan mulai diterapkan di sejumlah wilayah. Seluruh partisipan penelitian juga merupakan pengguna ponsel Android, sehingga hasil riset belum tentu mewakili remaja pengguna iPhone (iOS).
Psikolog Dr. Jean Twenge, yang tidak terlibat langsung dalam penelitian ini, menilai hasil studi tersebut penting karena menepis anggapan bahwa penggunaan ponsel di sekolah dominan untuk tujuan akademik.
“Studi ini memberikan bukti kuat bahwa anggapan tersebut tidak benar. Remaja justru menggunakan ponsel mereka untuk hiburan dan media sosial,” kata Twenge.
Sumber: Kompas











