MRT Kembangan–Balaraja Masuk Tahap Kajian, Jakarta dan Banten Perkuat Kolaborasi Transportasi Lintas Daerah

  • Share
PT MRT Jakarta (Perseroda) mulai melakukan kajian terkait pembangunan MRT lintas Timur-Barat Fase 2 yang menghubungkan Kembangan hingga Balaraja. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim).

RBN || Jakarta

PT MRT Jakarta (Perseroda) resmi memulai tahapan kajian pembangunan MRT Lintas Timur–Barat Fase 2 yang direncanakan menghubungkan Kembangan, Jakarta Barat, hingga Balaraja, Kabupaten Tangerang, Banten. Langkah awal ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Provinsi Banten yang berlangsung di Balai Kota Jakarta, Rabu (4/2).

Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat, menyampaikan bahwa penandatanganan MoU tersebut menjadi dasar dimulainya studi awal sebelum proyek masuk ke tahap perencanaan lanjutan. Kajian komprehensif ini diperkirakan akan rampung dalam kurun waktu 8 hingga 10 bulan ke depan.

“Yang ditandatangani hari ini adalah kerja sama untuk melakukan kajian terlebih dahulu. Kajian ini kami perkirakan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar delapan sampai sepuluh bulan,” ujar Tuhiyat usai penandatanganan MoU.

Menurutnya, kajian tersebut akan mencakup berbagai aspek penting, mulai dari perencanaan teknis jalur, sistem operasional, hingga penguatan kelembagaan dan skema pembiayaan. Jalur MRT yang dikaji memiliki panjang sekitar 30 kilometer dan diharapkan mampu menjadi tulang punggung transportasi massal baru yang menghubungkan Jakarta dengan kawasan barat Provinsi Banten.

Tuhiyat menambahkan, hasil kajian ini nantinya akan menjadi rujukan penting bagi Kementerian Perhubungan Republik Indonesia dalam menyusun kebijakan lanjutan. Dengan perencanaan yang matang, pembangunan MRT Lintas Timur–Barat Fase 2 diharapkan dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.

“Harapannya, studi ini dapat membantu Kementerian Perhubungan dalam melancarkan perencanaan, baik dari sisi kelembagaan maupun perencanaan keuangan, untuk MRT Lintas Timur–Barat Fase 2 dari Kembangan menuju Balaraja,” jelasnya.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menilai Nota Kesepahaman tersebut memiliki arti strategis, terutama dalam mendukung pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD). Ia menyebutkan bahwa kolaborasi lintas daerah ini akan memudahkan sinergi dengan para pengembang serta mendorong terciptanya kawasan perkotaan yang terintegrasi dan berkelanjutan.

“Kerja sama ini merupakan bentuk simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan antara Pemerintah Jakarta, Pemerintah Banten, para pengembang, dan MRT Jakarta, khususnya dalam hal pembiayaan dan pengembangan kawasan,” ujar Pramono.

Menurut Pramono, pembangunan transportasi massal lintas wilayah tidak hanya berfungsi sebagai sarana mobilitas, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam menekan kemacetan, meningkatkan kualitas hidup warga, dan mendorong pertumbuhan ekonomi regional.

Apresiasi terhadap kerja sama ini juga disampaikan oleh Gubernur Banten Ahmad Soni. Ia mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas komitmennya dalam membangun kolaborasi di sektor transportasi, khususnya untuk wilayah perbatasan Jakarta–Banten.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jakarta yang terus mengajak kami bekerja sama dalam menciptakan dan mengelola moda transportasi di wilayah perbatasan,” kata Soni.

Ia berharap kajian pembangunan MRT Kembangan–Balaraja ini dapat segera ditindaklanjuti ke tahap berikutnya dan menjadi solusi jangka panjang dalam meningkatkan konektivitas antarwilayah, mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, serta mendorong pemerataan pembangunan di kawasan Jabodetabek.

Sumber: CNN Indonesia

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *