RBN || Jakarta
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menegaskan komitmennya untuk mengawal kepentingan dunia usaha nasional dalam proses negosiasi tarif dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Salah satu fokus utama yang diperjuangkan adalah pembukaan akses pasar yang lebih luas dan kompetitif bagi produk ekspor unggulan Indonesia.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, mengungkapkan bahwa pembahasan negosiasi mencakup sejumlah sektor strategis yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor nasional, seperti garmen, tekstil, alas kaki, dan furnitur. Komoditas tersebut diharapkan memperoleh kemudahan tarif dalam kesepakatan dagang yang saat ini tengah difinalisasi oleh pemerintah kedua negara.
“Dengan Amerika Serikat, kami melihat proses ini secara positif. Apa yang diperjuangkan pemerintah melalui Kemenko Perekonomian sudah berada di jalur yang tepat. Produk-produk ekspor kita seperti garmen, tekstil, alas kaki, dan furnitur menjadi perhatian utama,” ujar Anindya dalam konferensi pers di Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Senin (12/1).
Menurutnya, kemudahan akses pasar bagi produk nasional sangat penting agar pelaku usaha Indonesia mampu bersaing secara sehat di pasar global, khususnya di AS yang merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.
Di sisi lain, Anindya menyebut Amerika Serikat juga menyampaikan kepentingannya terhadap sejumlah komoditas pangan, antara lain apel, daging, dan jagung. “Itu yang tampaknya ingin didorong oleh pihak AS. Perkembangannya tentu akan terus kami ikuti dan diselaraskan dengan kebijakan pemerintah,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kesepakatan dagang ini harus memberikan manfaat timbal balik. “Pada akhirnya, perjanjian ini harus menjadi sebuah transaksi yang saling menguntungkan. Kerja sama erat antara pemerintah dan dunia usaha menjadi kunci keberhasilannya,” tegasnya.
Pemerintah menargetkan kesepakatan dagang Indonesia-AS dapat dirampungkan pada akhir Januari 2026. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan negosiasi akan memasuki tahap pertemuan teknis pada 12–19 Januari 2026 untuk penyusunan dokumen legal Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan bertemu Presiden AS Donald Trump pada akhir Januari 2026 untuk menandatangani perjanjian tersebut, bergantung pada hasil akhir pembahasan teknis yang tengah berlangsung.
Sumber: CNN Indonesia











