BIONS 267: Merdeka Dari Dikte Digital! Pesan Dedi Kurnia Syah untuk Generasi Netizen

  • Share

RBN||Jakarta

Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, publik terutama generasi muda memegang peran penting dalam membentuk opini global. Satu unggahan bisa berdampak besar, bahkan memengaruhi arah kebijakan suatu negara. Tapi, di balik semua kemudahan itu, ada sisi gelap dari dunia digital yang harus diwaspadai.

Dalam Bincang Online Inspiratif (BIONS) seri ke-267 yang tayang Sabtu (2/8), Dr. Dedi Kurnia Syah, Executive Director Indonesia Political Opinion, menyampaikan refleksi kritis tentang pengaruh media digital terhadap citra Indonesia.

“Sekarang kita hidup di dua dunia yang berbeda tapi dalam satu waktu, yaitu era jaringan (network society) dan era masyarakat transformatif (transformation society),” jelas Dedi mengutip pemikiran Manuel Castells.

Ia juga menambahkan bahwa melalui konsep Global Village yang dicetuskan oleh Marshall McLuhan, dunia kini serasa satu desa apa pun yang terjadi di satu titik, bisa langsung menyebar ke seluruh penjuru dunia hanya dalam hitungan detik.

Sisi Gelap Era Digital

Meskipun teknologi memberikan akses informasi yang luar biasa luas, Dedi menekankan bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menyaring informasi yang benar.

“Orang-orang berpengetahuan luas akan melakukan klarifikasi jika informasinya keliru, sementara yang minim akses bisa saja langsung percaya mentah-mentah,” ujarnya.

Ia bahkan menyebut kehidupan di era digital sebagai “hidup dalam ketersendirian.” Secara virtual tampak ramai dan terkoneksi, namun secara sosiologis, banyak orang merasa sendiri.

Diplomasi Digital dan Tantangan Kolektivitas

Menurut Dedi, citra Indonesia di mata dunia bisa diperkuat melalui diplomasi digital bukan hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh warganet.

“Diplomasi politik di ruang cyber memerlukan kolektivitas dan pengembangan objek diplomasi,” jelasnya.

Sayangnya, ia menilai kolektivitas antara pemerintah dan masyarakat masih belum maksimal. Salah satu contohnya adalah perbedaan antara narasi yang dibangun pemerintah dengan realita di lapangan yang bisa dilihat jelas melalui media sosial.

Dedi mencontohkan promosi pariwisata dan kuliner lokal yang bisa dilakukan bersama, seperti yang sukses dilakukan Thailand dalam membangun citranya melalui media digital.

Merdeka dari Dikte Digital

Dedi mengingatkan pentingnya literasi digital agar masyarakat tidak mudah terbawa arus informasi yang menyesatkan. Ia juga menyoroti fenomena bias intelektual yang bisa membuat masyarakat kesulitan menyaring informasi yang mereka terima setiap hari.

“Seluruh warga negara harus bisa memerdekakan diri dari dikte-dikte digital, artinya tidak mudah terombang-ambing, bisa menentukan sikap sendiri,” tegasnya.

Ia pun menutup dengan pesan kepada pemerintah agar tidak lagi memanfaatkan media untuk propaganda kelompok tertentu. Karena pada akhirnya, masyarakat akan memiliki kesadaran sendiri dan bergerak sesuai dengan kepentingan mereka sebagai warga negara yang merdeka.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *