RBN || Jakarta
Tren gaya hidup sehat kini tak hanya terlihat dari semakin banyaknya orang yang rutin berolahraga, tetapi juga dari perubahan kebiasaan makan. Salah satu yang tengah naik daun adalah tren mengonsumsi makanan kukusan.
Belakangan tak sulit menemukan penjual aneka makanan kukus di pinggir jalan, mulai dari jagung, ubi, pisang, hingga singkong. Permintaan yang tinggi membuat bisnis makanan kukusan pun semakin menjamur.
“Makanan kukusan sebaiknya dikombinasikan dengan sumber protein hewani agar tidak hanya memberikan rasa kenyang dan mengikuti tren, tetapi juga mendukung pemeliharaan kesehatan tubuh secara optimal,” katanya, dikutip dari lamanĀ IPB University, Senin (12/1).
Menurut Ai Imas, berbagai bahan pangan yang disajikan dalam bentuk kukusan umumnya memiliki kandungan gizi yang baik bagi kesehatan. Namun, ia tetap mengingatkan pentingnya prinsip variasi dan keseimbangan zat gizi dalam menu harian.
Selain itu, suhu pengukusan yang relatif lebih rendah juga membantu mempertahankan kandungan nutrisi, terutama vitamin dan mineral. “Bahan pangan yang dikukus tidak kontak langsung dengan air, sehingga kehilangan vitamin dan mineral menjadi lebih kecil,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sejumlah bahan pangan justru sangat diuntungkan jika diolah dengan teknik kukus. Umbi-umbian seperti ubi jalar, singkong, talas, dan kentang berfungsi sebagai sumber karbohidrat. Sayuran hijau dan berwarna cerah seperti brokoli, wortel, serta labu kuning kaya akan vitamin dan antioksidan.
Sementara itu, kacang-kacangan seperti kacang tanah dan edamame menjadi sumber protein nabati dan mineral. Jagung manis mengandung karbohidrat, vitamin, dan mineral, sedangkan telur yang dikukus dapat menjadi sumber protein hewani yang praktis dan sehat.
Menariknya, sebagian besar bahan pangan tersebut merupakan pangan lokal Indonesia. Selain mendukung pemenuhan gizi, kebiasaan mengonsumsi makanan kukusan juga berkontribusi pada penguatan konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal.
Sumber: kumparan











