RBN || Jakarta
Dalam dunia kecantikan, kreativitas dan kepekaan terhadap tren adalah kunci utama. Namun di balik kuas dan riasan, selalu ada kisah perjuangan dan keberanian untuk memulai. Begitu pula perjalanan Putri Melati, S.I.Kom, seorang make-up artist (MUA) muda yang kini mulai dikenal melalui karya dan konsistensinya. Hal ini disampaikan dalam tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 282, Sabtu (15/11).
Putri mengaku ketertarikannya terhadap dunia make-up bermula sejak ia masih kecil. Warna baginya adalah hal yang indah, dan dari situlah ia mulai bermain dengan eyeshadow—sekadar corat-coret tanpa aturan.
“Saya dari kecil senang dengan warna. Menurut saya warna itu indah dan menarik. Dari situ mulai tertarik dengan make-up. Waktu kecil suka main eyeshadow, asal nyoret-nyoret,” kenangnya.
Ketika beranjak remaja, Putri mulai lebih serius. Meski aturan sekolah tidak memperbolehkan riasan tebal, minatnya makin kuat hingga memasuki bangku kuliah jurusan Ilmu Komunikasi. Tugas-tugas acara kampus yang melibatkan riasan membuat Putri semakin percaya diri.
Perjalanan Putri tentu tidak mulus. Salah satu tantangan terbesar baginya saat merintis adalah melawan rasa malas.
“Rasa malas itu tantangannya, karena membangun jasa MUA butuh waktu panjang. Kita harus bangun personal branding lewat portofolio,” jelasnya.
Menurutnya, MUA harus konsisten mengunggah hasil karya di media sosial agar dipercaya calon klien. Namun kebiasaan membuat dan mengunggah konten tidak selalu mudah dilakukan.
Sylvia, S. I. Kom, rekannya, menambahkan bahwa tantangan lain terletak pada detail eye makeup.
“Eye makeup itu rumit. Kalau terlalu tebal kelihatan menor. Kita maunya yang soft,” ujar Sylvia.
Sebagai beautypreneur, Putri sadar bahwa tren kecantikan bergerak cepat. Karena itu, mengikuti perkembangan media sosial adalah keharusan.
“Supaya tidak ketinggalan zaman, kita harus ikut tren. Salah satunya pakai sound yang sedang viral di media sosial,” katanya.
Strategi ini terbukti membantu menjaga karya Putri tetap segar dan diminati banyak orang.
Putri menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memajukan industri kecantikan.
“Kolaborasi itu kunci. Kampus bisa jadi tempat edukasi dan riset, pemerintah mengadakan pelatihan, komunitas menjadi tempat sharing. Kalau semuanya terintegrasi, pasti akan ada inovasi,” jelasnya.
Ia menilai bahwa inovasi tidak lahir dari satu pihak, melainkan tumbuh melalui jejaring yang saling menguatkan—antara akademisi, pelaku bisnis, komunitas, hingga pemerintah.
Bagi Putri, komunitas UMKM kecantikan memiliki peran besar dalam perkembangan beautypreneur muda.
“Komunitas itu seperti saudara. Sangat penting untuk saling mendukung dan berbagi pengalaman,” ungkapnya.
Di era digital, kemajuan teknologi semakin memudahkan kolaborasi antarpelaku beautypreneur. Mereka tidak hanya saling mendukung, tetapi juga saling menginspirasi untuk terus menciptakan inovasi baru.
Dengan perjalanannya yang penuh konsistensi, Putri Melati membuktikan bahwa kesuksesan di dunia kecantikan bukan hanya soal riasan sempurna—tetapi juga ketekunan, kreativitas, dan jaringan yang saling menguatkan.











