Kasus Rotavirus Meningkat di AS, Dokter Khawatir Dampaknya pada Anak

  • Share
Ilustrasi anak sakit perut. (Foto: Freepik)

RBN || Jakarta

Kasus infeksi rotavirus kembali meningkat di Amerika Serikat sejak awal 2026. Kondisi ini memicu kekhawatiran para tenaga medis karena virus tersebut sangat menular dan berisiko tinggi menyebabkan dehidrasi berat pada bayi dan anak-anak.

Berdasarkan laporan NBC News, lonjakan kasus sudah terlihat sejak Januari dan masih berlangsung di sejumlah wilayah. Situasi ini terjadi di tengah menurunnya angka vaksinasi anak, yang dikhawatirkan dapat memperburuk penyebaran penyakit.

Rotavirus dikenal sebagai virus yang dapat berkembang dengan cepat. Epidemiolog penyakit menular dari Emory University, Ben Lopman, mengungkapkan pengalamannya saat anaknya terinfeksi virus tersebut.

“Itu menakutkan,” ujar Lopman.

Ia menjelaskan, anaknya mengalami dehidrasi berat dalam waktu kurang dari dua hari, yang menunjukkan betapa seriusnya infeksi rotavirus, terutama pada usia dini.

Data dari program WastewaterScan juga menunjukkan peningkatan kadar rotavirus di air limbah di berbagai wilayah Amerika Serikat. Direktur program tersebut, Dr. Marlene Wolfe, menyebut kondisi ini mencerminkan tingginya tingkat infeksi di masyarakat.

“Kami melihat kadar rotavirus yang sangat tinggi saat ini, dan itu menunjukkan infeksi yang juga tinggi di komunitas,” ujarnya.

Rotavirus dapat menginfeksi semua kelompok usia, namun dampaknya paling berat dirasakan oleh bayi dan anak kecil. Dokter anak di Oklahoma Children’s OU Health, Dr. Stephanie Deleon, menjelaskan gejala awal infeksi biasanya berupa demam dan muntah, yang kemudian diikuti diare intens.

“Diare biasanya muncul setelah muntah dan bisa berlangsung cukup intens,” katanya.

Dalam beberapa kasus, diare dapat terjadi lebih dari 20 kali dalam sehari dan berlangsung selama tiga hingga delapan hari, sehingga meningkatkan risiko dehidrasi serius.

Hingga kini, belum ada pengobatan khusus untuk rotavirus selain perawatan suportif seperti pemberian cairan. Namun, muntah berulang sering kali menyulitkan proses rehidrasi melalui mulut.

Profesor pediatri dari Children’s Hospital of Philadelphia, Dr. Paul Offit, mengatakan kondisi tersebut kerap membuat pasien harus menjalani perawatan di rumah sakit.

“Masalahnya adalah muntah terus-menerus, sehingga sulit memberikan cairan melalui mulut,” ujarnya.

Sebelum vaksin diperkenalkan, rotavirus menjadi salah satu penyebab utama rawat inap pada anak di Amerika Serikat. Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan vaksin mampu mencegah hingga 40.000–50.000 kasus rawat inap setiap tahun.

Namun, saat ini tingkat vaksinasi anak menurun menjadi sekitar 73,8 persen. Kondisi ini dinilai meningkatkan risiko lonjakan kasus di masa mendatang.

“Anak yang tidak divaksin jelas memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit serius,” kata Deleon.

Rotavirus menyebar melalui kontak dengan tangan yang terkontaminasi, kemudian masuk ke tubuh melalui mulut. Virus ini juga dapat bertahan lama di permukaan benda, sehingga penyebarannya sulit dikendalikan.

“Virus ini bisa bertahan lama di permukaan, bahkan setelah mencuci tangan,” ujar profesor kesehatan global dari Stanford University, Dr. Yvonne Maldonado.

Meski tingkat kematian akibat rotavirus relatif rendah di negara dengan layanan kesehatan memadai, dampaknya tetap signifikan, mulai dari rawat inap hingga beban biaya dan tekanan bagi keluarga.

“Rawat inap adalah hal besar, baik dari sisi biaya maupun dampaknya bagi keluarga,” kata pakar penyakit menular dari University of California San Francisco, Dr. Monica Gandhi.

Para ahli menegaskan bahwa vaksinasi tetap menjadi langkah paling efektif untuk mencegah penyakit berat akibat rotavirus.

“Virus ini masih ada, jadi memilih tidak divaksin berarti memilih menghadapi risiko infeksi,” pungkas Lopman.

Sumber: Kompas

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *